Apakah Onani Membatalkan Puasa…?

4 08 2012

Asal dari perkara ibadah (yang dilakukan) adalah sah, dan penetapan atas pembatalannya membutuhkan dalil. Berdasarkan atas hal ini, dituntut bagi orang yang mendakwakan batalnya (ibadah tersebut) untuk membawakan dalil. Di sini, tidak ada dalil shahih dan sharih yang menyatakan batalnya puasa akibat onani.
Kedua :
Penyamaan onani dengan jima’ adalah penyamaan secara qiyas, dan itu merupakan qiyasfaasid ditinjau dari dua sisi :

1. Tidak sahnya ‘illat.
Orang yang mengqiyaskan onani dengan jima’ meninjaunya dari dua hal berikut :
a. Kesenangan/kenikmatan (al-ladzdzah -atau syahwat)

Jawab : Kenikmatan dalam jima’ itu lebih kuat dan lebih jelas dibandingkan kenikmatan dalam onani, sedangkan syarat adanya penyamaan (dalam qiyas) adalah keberadaan sifat yang ada dalam cabang (al-far’) sebanding dengan pokoknya (al-ashl) atau lebih kuat.
b. Keluarnya mani.
Jawab : Hal ini tidak sah dijadikan ‘illat dalam qiyas, karena tidak ada hubungannya dengan sifat yang diqiyaskan. Jima’ tanpa disertai keluarnya mani tetap membatalkan puasa berdasarkan ijma’. Seandainya ‘illat-nya adalah keluarnya mani, konsekuensinya : jima’ tidaklah membatalkan puasa kecuali jima’ yang mengeluarkan mani. Oleh karena itu, selama keluarnya mani dalam jima’ tidak dianggap sebagai pembatal puasa, maka tidak sah menjadikannya sebagai ‘illatdalam qiyas (terhadap onani).
2. Penempatan onani pada jima’ mengkonsekuensikan penetapan hukum-hukum jima’ pada onani. Dengan itu dikatakan : Onani itu seperti jima’ yang membatalkan puasa dan wajib membayar kaffarah. Akan tetapi kenyataannya, orang yang mengatakan onani membatalkan puasa tidak mewajibkan kaffarah padanya.
Seandainya dikatakan kaffaarah hanya masuk dalam bab celaan, maka onani yang statusnya diharamkan (dalam segala kondisi) lebih layak untuk mengkonsekuensikankaffaarah dibandingkan jima’ yang hanya dilarang pada waktu puasa. Seandainya dikatakan kaffaarah merupakan bentuk celaan dan pemaksaan (untuk melakukannya), maka hukum jima’ dan onani hakekatnya satu (sama) dikarenakan pelanggaran kehormatan hari puasa akibat syahwat.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

يَتْرُكُ طَعَامَهُ، وَشَرَابَهُ، وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي

“….Ia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya dikarenakan puasanya untuk-Ku…” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1894 & 7492, Muslim no. 1151, Ibnu Maajah no. 1638, Ad-Daarimiy no. 1770, dan yang lainnya dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu].
Hadits ini dijadikan dalil bahwa onani membatalkan puasa. Jika dikatakan bahwa lafadhsyahwat dalam hadits ini adalah umum, sehingga dipahami mencakup jima’ dan onani, namun mengapa mereka tidak memasukkan bermesra-mesraan dan mencium dengan istri sebagai pembatal puasa (tanpa mengeluarkan mani) ? padahal ia masuk dalam keumuman lafadh tersebut (syahwat).

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَ: عَنْ شُعْبَةَ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الْأَسْوَدِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: ” كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ “

Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Harb, ia berkata : Dari Syu’bah, dari Al-Hakam, dari Ibraahiim, dari Al-Aswad, dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : “Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium dan bermesraan (dengan istrinya) ketika sedang berpuasa. Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kuat menahan keinginannya (hawa nafsunya) di antara kalian” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1927].
Dan dengan hadits ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhu ini dapat diketahui bahwa syahwat yang dimaksudkan dalam hadits sebelumnya adalah jima’.
Ash-Shan’aniy berkata :

الأظهر أنه لا قضاء ولا كفارة إلا على من جامع وإلحاق غير المجامع به بعيد.

“Tapi pendapat yang paling benar adalah tidak perlu qadla’ dan tidak perlu kaffarat, kecuali bagi orang yang melakukan jima’. Dan menyamakan sebab lain dengan jima’ adalah tidak benar” [Subulus-Salaam oleh Ash-Shan’aniy, 2/226; Daarul-Hadiits, Cet. Thn. 1425].
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
Semoga bahasan sederhana ini bermanfaat.
[Ditulis oleh saudara kami abul-jauzaa’ – wonokarto, wonogiri – 30072012].

About these ads

Actions

Information

5 responses

4 08 2012
Waldi

ijin share ya admin…

6 08 2012
ambha

brrti nggak batal donk

20 10 2012
Bang Uddin

Innalillahi

13 03 2013
ali hasan

ternyata ONANI lebih bahaya dari NIKOTIN ya gan?

Berarti perempuan yang menyebabkan si lelaki ONANI Dapat ancaman JAHANAM Ya gan? Karena mempertontonkan aurat di muka umum,, seperti memakai celana leging, hot pant, kaos ketat,,rok mini,, bokong yang sintal.,,gak kebayang dah dunia tanpa ONANI.. seolah olah ONANI Udah menjadi gaya hidup kaum urban. Zamanlah yang salah,,bukan pelaku onani nya. Sebab manusia itu bukan makhluk yang bisa ”di nego” soal sahwat. Apalagi kaum adam,, kalo seminggu aja gak ONANI,pikiran galau,otak melempem.tapi setelah onani badan kembali segar,stamina meningkat untuk kembali mengunduh video porno.itu lah sekelumit kebiasa’an pria pria tak beriman.

13 07 2013
Joko

gw setuju gan, ga onani kepala keliengan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 50 other followers

%d bloggers like this: