Usia dan Semangat…!

30 03 2011

jam_pasir

jam_pasir

Assalamualaykum warohmatullahi wabarokaatuh

Berikut ini adalah cuplikan ringkas tentang keutamaan belajar walaupun sudah berumur, barangkali bisa menjadi penyemangat kita bersama,..[1]

‘Barangkali saja, banyak orang yang enggan untuk belajar ilmu agama karena umurnya yang sudah tua, dan ia malu karena ia melupakan ilmu itu ketika masa mudanya, sehingga dengan demikian ia menjadi malas belajar, dan akhirnya terpaksa harus rela dengan kebodohan, baginya lebih baik bodoh di masa tua dibandingkan harus menjadi seorang ‘pemula’ yang belajar hal-hal dasar. sebenarnya yang demikian ini adalah akal2an kebodohan, dan kemalasan, kenapa? karena sebenarnya jika kita telah mengetahui bahwa ilmu itu memiliki keutamaan yang demikian tinggi, maka semangat seorang yang sudah berumur untuk meraih keutamaan adalah sesuatu yang sangat hebat, juga ingat bahwa memulai melakukan sesuatu yang memiliki keutamaan merupakan keutamaan tersendiri. Hendaknya kita menyadari bahwa lebih baik menjadi seorang tua yang memulai untuk belajar ilmu agama dari pada menjadi tua bangka yang bodoh.

Ada sebuah hikayat dari salah seorang ahli hikmah, bahwa suatu hari ia melihat kakek yang sudah sangat tua, sang kakek senang membolak-balik buku mengenai agama, akan tetapi ia malu terlihat oleh orang lain. Lalu berkatalah sang ahli hikmah, ‘wahai kakek, kenapa kamu malu untuk menjadi lebih baik di akhir-akhir kehidupanmu dibandingkan ketika engkau masih muda ..?’

Pernah diceritakan bahwa suatu hari Ibrahim ibnul Mahdiy datang menemui Al Ma’mun, waktu itu di sekeliling Al ma’mun banyak orang-orang yang memperbincangkan masalah fiqih, lalu berkatalah Al ma’mun,
‘wahai paman, bagaimana komentarmu, coba, bagaimana menurut pendapatmu mengenai pembicaraan mereka?

Sang paman berkata, ‘Wahai amiirul Mu’miniin, waktu muda kami dipenuhi dengan kesibukan, dan sekarang kami pun sibuk’,

Al ma’mun lantas berkata, ‘Kenapa engkau tidak belajar saja sekarang’,

pamannya menjawab, ‘Orang tua seperti saya mulai belajar..?’,

Al ma’mun membalas, ‘tentu saja, demi Allah, kalau engkau meninggal dalam keadaan belajar ilmu agama, jauh lebih baik daripada engkau meninggal dalam keadaan rela dengan kebodohan’.,

sang paman kembali bertanya, ‘sampai kapan saya akan menuntut ilmu..?’

Al ma’mun menjawab, ‘selama engkau hidup di dunia ini…’

Demikianlah, karena masa kanak-kanak itu lebih pantas mendapat udzur dibandingkan masa tua, walaupun sebenarnya tidak ada udzur sehingga seseorang berada di dalam kebodohan, karena masa-masa yang tidak memungkinkan untuk belajar tidaklah berlangsung lama, hanya sebagian kecil saja dari masa hidup seseorang.

Ada sebuah perkataan hikmah mengatakan bahwa, kebodohan yang ada ketika masa kanak-kanak merupakan sesuatu yang dimaklumi, kalaupun mereka mengetahui ilmu, maka ilmu mereka diremehkan oleh kebanyakan orang, adapun masa tua, kebodohan di masa itu lebih buruk, lebih kentara dan nyata, karena bertambahnya umur jika tidak membawa kepada kemapanan dan mengantarkan kepada ilmu pengetahuan, bahkan hari-hari berlalu dalam regukan kebodohan, sepi dari kemapanan hidup dan keutamaannya, maka anak-anak tentunya lebih utama dari pada orang tua yang seperti ini. Kenapa? Karena anak-anak masih memiliki banyak harapan untuk maju di masa yang akan datang. Dari sini kita ketahui bersama bahwa kebodohan pada masa tua itu amatlah memalukan, karena anak-anak kecil yang sama-sama bodoh, jauh lebih baik dari pada seorang tua yang bodoh.

Seorang ahli sastra bersenandung,

Jika tahun-tahun yang datang dan berlalu tidak menambah
keutamaaan bagi seseorang, aku akan panggil ia anak kecil.

Apa gunanya umur yang bertambah ketika engkau hitung,
akan tetapi ilmu dan keutamaan jiwa tiada bertambah

Aku melihat sang waktu karena buruknya tingkah laku orang bodoh mempermainkan
setiap orang bodoh, seolah2 ada tanda kebodohan dalam dirinya
[2]

==============================================
[1] Artikel ini adalah terjemahan bebas dari pembahasan yang ada di kitab Adabud Dunya wad Diin tulisan Abil Hasan Al Mawardy, hal 44-45
[2] Terjemahan syair ini mungkin kurang tepat, silahkan merujuk ke buku aslinya.

Wassalam

Muhammad Fuady

Dikutip dari SALAFY ITB


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: