Lakukan Amalmu Karena-Nya, Jangan Karena mereka…

26 11 2010

fatamorgana

fatamorgana

Hari – hari yang berlalu senantiasa akan menghadirkan amalan – amalan shalih bagi seorang yang mengerti benar bahwa suatu saat dia akan mati.

Di hari dimana saudara – sadari dijauhkan dari kita…

Di hari dimana ayah dan ibunda tak lagi mengenali dan membela kita…

Serta di hari manusia lalai akan anak dan istrinya…

Sebuah kesadaran akan pentingnya beramal dan berdoa, haruslah melekat pada diri seorang yang mengaku berislam…yang mengaku beriman atau bahkan minimal yang agama dalam KTPnya tertuliskan islam…

Namun siapa menyangka, dibalik amalan – amalan shalih yang kita hadirkan setiap harinya, terselip sebuah bayang – bayang ancaman…

Ancaman apa…?

Ancaman TERHAPUSNYA AMALAN – AMALAN SHALIH yang kita lakukan dan menjadi tak bernilai di hadapan Rabbuna ‘azza wa jalla. Ya, ancaman itu datang tatkala niat kita terkotori oleh sebuah noda yang sangat amat rumit kita ketahui. Bagaimana tidak rumit, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja menyifati ia layaknya seekor semut yang berjalan di atas batu hitam, di kegelapan malam.

Jika kita menyebut ancaman itu dengan kata RIYA’, maka amatlah tepat apa yang kita tebak.

Sungguh bayang – bayang riya’ ini tak bias lepas dari seseorang, bahkan seorang penuntut ilmu dien sekalipun. Karena ancaman inilah perlu kita saling mengingatkan kembali…

Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz Dzariyat: 55)

Ancaman ini termasuk jenis ancaman yang sangat berbahaya karena bersifat lembut (samar-samar) tapi berdampak luar biasa berat… Bersifat lembut karena masuk dalam hati secara halus sehingga kebanyakan orang tak merasa kalau telah terserang ancaman ini. Dan berdampak luar biasa, karena bila suatu amalan dijangkiti ancaman riya’ maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala dan pelakunya mendapat ancaman keras dari Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sangat khawatir bila ancaman ini menimpa umatnya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ingatkan dalam sabda beliau:

Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.” [HR. Ahmad, dari shahabat Mahmud bin Labid no. 27742]

Sedikit memperjelas definisi riya’, adalah suatu niat memperlihatkan (memperbagus) suatu amalan ibadah tertentu seperti shalat, shaum (puasa), atau lainnya dengan tujuan agar mendapat perhatian dan pujian manusia. Semakna dengan riya’ adalah Sum’ah yaitu memperdengarkan suatu amalan ibadah tertentu yang sama tujuannya dengan riya’ yaitu supaya mendapat perhatian dan pujian manusia.

Orang – orang munafik adalah orang yang paling terhipnotis oleh riya’ ini. Bagaimana tidak, mereka dalam beramal meniatkan SELURUH AMALAN mereka hanya agar dilihat manusia. Dan ketahuilah, ini adalah sebesar – besarnya riya’ di sini Allah ta’ala… Begitu pula dengan orang yang dalam amalannya lebih didominasi oleh riya’. [dikutip dari kitab Al Mufiid fii Muhimmaati at Tauhid 183. Dr. ‘Abdul Qodir as Shufi]

Oleh karena betapa besarnya ancaman ini, bahkan kepada orang – orang yang gemar menuntut ilmu agama, Nabi shallallahu a’alaihi wa sallam mengingatkan:

Barangsiapa mempelajari ilmu yang dengannya dicari wajah Allah Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk meraih kesenangan dunia dengan ilmu itu, ia tidak akan mendapat aroma surga pada hari kiamat.” [HR. Abu Dawud, shahih]

Lihatlah betapa hati – hatinya Nabi kita yang mulia dalam mewanti – wanti para pencari ilmu dien ini. Karena golongan pertama yang akan diadzab oleh Allah ta’ala adalah dari golongan orang – orang yang riya’ dalam menuntut ilmunya…!!

Masih ingatkah kita dengan riwayat ini…

عن أبي هريرة قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول
إن أول الناس يقضى يوم القيامة عليه: رجل استشهد، فأتى به، فعرفه نعمته فعرفها، قال: فما عملت فيها؟ قال: قاتلت فيك حتى استشهدت. قال: كذبت، ولكنك قاتلت لأن يقال: هو جرئ، فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار، ورجل تعلم العلم وعلمه، وقرأ القرآن، فأتى به، فعرفه نعمه فعرفها، قال: فما عملت فيها؟ قال: تعلمت العلم وعلمته، وقرأت فيك القرآن. قال: كذبت، ولكنك تعلمت ليقال: عالم، وقرأت القرآن ليقال هو قارئ، فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار، ورجل وسع الله عليه وأعطاه من أصناف المال، فأتى به، فعرفه نعمه فعرفها، قال: فما علمت فيها؟ قال: ما تركت من سبيل تحب أن ينفق فيها إلا أنفقت فيها لك، قال: كذبت، ولكنك فعلت ليقال: هو جواد، فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار
(رواه مسلم والنسائي، ورواه الترمذي وحسنه، وابن حبان في صحيحه)

Dari Abu Hurairah yang berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan kemudian ditampakkan kepadanya nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang kamu lakukan dengannya?” Dia menjawab, “Aku berperang untuk-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Engkau dusta, sebenarnya engkau berperang kerana ingin disebut sebagai pemberani. Dan itu sudah kau dapatkan.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

Kemudian seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al Quran. Dia didatangkan kemudian ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sudah didapatkannya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kau perbuat dengannya ?” Maka dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Quran kerana-Mu.” Allah berfirman, ”Engkau dusta, sebenarnya engkau menuntut ilmu supaya disebut orang alim. Engkau membaca Quran supaya disebut sebagai Qari’.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

Kemudian ada seseorang yang telah mendapatkan anugerah kelapangan harta. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang diperolehnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kamu perbuat dengannya?” Dia menjawab, “Tidaklah aku tinggalkan suatu kesempatan untuk menginfakkan harta di jalan-Mu kecuali aku telah infakkan hartaku untuk-Mu.” Allah berfirman, “Engkau dusta, sebenarnya engkau lakukan itu demi mendapatkan julukan orang yang dermawan, dan engkau sudah memperolehnya.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” [HR. Muslim, Nasa’I dan Ibnu Hibban dalam shahihnya]

Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja takut riya’ ini akan menjangkiti shahabat beliau lantas bagaimana dengan kita…? [dikutip dari kitab I’aanatul Mustafiid I/90]

Saudaraku…mari gemarkan berdoa di setiap shalat kita, di setiap sujud kita. Dengan doa yang Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita melalui sabdanya, ‘Wahai sekalian manusia, jauhilah dosa syirik, karena syirik itu lebih samar daripada rayapan seekor semut.’ Lalu ada orang yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kami dapat menjauhi dosa syirik, sementara ia lebih samar daripada rayapan seekor semut?’ Rasulullah berkata, ‘Ucapkanlah Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima laa a’lam (‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui).”[ HR. Ahmad (4/403), dikatakan shahih oleh Imam Al Albaniy dalam kitab Shahiihul Jami’ (3731)

Semoga sedikit yang bias kami kutipkan sebelum shalat jumat ini, bias bermanfaat untuk kita untuk selalu mengingat bahwa janganlah kita memberati diri dengan amalan-amalan yang banyak,. Karena, alangkah banyak orang yang memperbanyak amalan, namun hal itu tidak memberikan manfaat kepadanya kecuali rasa capai dan keletihan semata di dunia dan siksaan di akhirat.[ Disadur dari Kitab Al-Ikhlas, Syaih Husain bin Audah Al-Awaisyah, Maktabah Islamiyyah, cetakan VII, Tahun 1413H-1992M halaman 9-10]

Tetaplah berusaha mengikhlashkan amalan wahai saudaraku, walaupun itu berat…

Jangankan kita, Al Imam Sufyan ats Tsauri saja mengatakan “ Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat  daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik…” [dalam kitab Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam hal. 34, Ibnu Rajab al Hambali]

Semoga Allah ta’ala melindungi kita dari riya’ ini

Wallahua’lam.

Ditulis Didit Fitriawan menjelang shalat jumat di Masjid Manarul ‘Ilmi ITS, Surabaya


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: