DIJUAL RUMAH DI SURGA, dengan harga…-SHALAT SUNNAH RAWATIB-

22 08 2010

rumah di surga

rumah di surga

Bismillah…

Di bulan ramadhan yang mulia ini, banyak di antara kaum muslimin yang berlomba – lomba untuk beramal kebaikan baik itu yang bersifat wajib maupun sunnah. Namun di sisi yang lain, banyak pula di antara mereka yang bersantai – santai ria seakan tak ada beda antara ramadhan yang mulia dengan hari – hari lainnya.

Hanya sekedar ingin menyumbangkan sebuah ‘ilmu yang kami dapatkan dari beberapa buku yang baru saja kami baca, maka tertulislah catatan ringan ini. Berharap Allah ta’ala menggantinya dengan balasan kebaikan di sisiNya dan mengharap wajahNya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,” Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Adz-Dzariyat : 55)

Demikianlah kami mencoba membantu ingatkan saudara – saudara kami serta terutama kami sendiri, bahwa ada sebuah keutamaan yang agung, yang Allah janjikan dalam setiap hari-nya. Apa gerangan…?

Jika anda mengatakan hal itu adalah SHALAT SUNNAH RAWATIB, maka jawaban anda sangat benar…!

Dalam buku Shahih Fiqih Sunnah, Maktabah at-Taufiqiyyah I/372, disebutkan bahwa shalat sunnah rawatib itu adalah shalat-shalat yang dilakukan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam atau dianjurkan bersama shalat wajib, baik sebelum maupun sesudahnya.

Dalam sebuah hadits, Nabi kita yang mulia -shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَوْ إِلاَّ بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ. قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ فَمَا بَرِحْتُ أُصَلِّيهِنَّ بَعْدُ

“Seorang hamba yang muslim melakukan shalat sunnah yang bukan wajib, karena Allah, (sebanyak) dua belas rakaat dalam setiap hari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.”

(Kemudian) Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha berkata, “Setelah aku mendengar hadits ini aku tidak pernah meninggalkan shalat-shalat tersebut.” [HR. Muslim, no. 728]

Yaa subhanallaah, di saat kita selama ini menabung dan mengumpulkan modal untuk membeli sebuah rumah di perumahan dengan begitu payah dan lelah, Allah ta’ala justru memberikan sebuah jalan tabungan untuk membeli sebuah rumah bahkan selayak istana, di SURGA…! Aduhai, jika perumahan di dunia saja sudah layak untuk membuat kita tergiur, maka bagaimana lagi rumah di surga…?

Jika di dunia yang notabene hidup kita hanya berkisar 60an tahun saja kita membutuhkan sebuah rumah untuk tempat berteduh dari hujan, berlindung dari panas terik… maka SUNGGUH AMATLAH BUTUH kita AKAN TEMPAT TINGGAL DI AKHIRAT. Sebuah negeri yang tak ada kematian di dalamnya, KEKAL…!

Tak berlebihan kiranya kami mengambil judul seperti di atas, sebagaimana yang ustadz kami -Armen Halim Naro (rahimahullah)- sampaikan dalam kajian beliau “Bersemilah Ramadhan”. Beliau menuturkan agar seorang hamba Allah berpandai – pandai untuk memanfaatkan modal usahanya untuk membeli akhirat…

Dan salah satunya adalah dengan istiqamah menjalankan shalat sunnah rawatib.

Lihatlah akhi, ukhti… Ummu Habibah radliyallahu’anha. Teladanilah ketekunan beliau, keistiqamahan beliau dalam menjalankan shalat sunnah rawatib ini. Lihatlah beliau, bagaimana beliau menjaga shalat rawatibnyahingga tak tertinggal satu rakaatpun dari sunnah rawatib yang beliau lewatkan. Fa Subhanallaah…

Bahkan, andai kita mengetahui tentang amalan apa yang akan dihisab Allah ta’ala pertama kali adalah SHALAT, maka sudah barang tentu kita kejar shalat sunnah rawatib kita untuk menyempurnakan nilai shalat kita di sisi Allah ta’ala nanti. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses, dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila kurang sedikit dari shalat wajibnya maka Rabb ‘Azza wa jalla berfirman: “Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki shalat tathawwu’ (shalat sunnah)?” Lalu shalat wajibnya yang kurang tersebut disempurnakan dengannya, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian.” [HR At-Tirmidzi no. 413]

Namun belum cukup sampai di sini, ada sebuah hal yang harus kita ketahui dengan yakin dimanakah waktu – waktu shalat sunnah yang paling dianjurkan dalam sehari semalam…?

Ada banyak pendapat mengenai hal ini yang telah dibahas Imam an Nawawi dalam buku Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab. Akan tetapi, lebih mudahnya adalah dari penjelasan seorang ulama Saudi Arabia, Asy Syaikh Muhammad Ibnu Shalaih al ‘Utsaimin dalam kitab Asy Syarhul Mumti’ berikut ini…

Shalat sunnah rawatib yang dianjurkan adalah duabelas raka’at dengan perincian dua raka’at sebelum Subuh, empat raka’at sebelum Zhuhur, dua raka’at setelah Zhuhur, dua raka’at setelah Maghrib, dan dua raka’at setelah ‘Isya` [dlm buku Asy Syarhul Mumti’ (IV/96)]

Dari sini, maka marilah saudara – saudariku…kita gemarkan untuk istiqamah menjalankan shalat sunnah rawatib, perbanyaklah membayar cicilan rumah di surganya Allah ta’ala, belajarlah istiqamah dari amalan sederhana ini…

Belajarlah menjadi hamba yang dicintai oleh Allah ta’ala oleh sebab amalanmu yang rutin walaupun amalan itu sedikit… [HR. al-Bukhari (no. 6099) dan HR. Muslim (no. 783)]

Dan belajarlah untuk menjadi hamba yang menjaga shalat…

—–+++—–

Ditulis oleh Didit Fitriawan, di malam 12 Ramadhan 1431 H di Sidoarjo


Actions

Information

8 responses

23 08 2010
amir

mau mau mau… ^_^

23 08 2010
AruM

Assalamu’alaykum… Ijin Share ya… Maaf ijinnya belakangan… :D

23 08 2010
Ade Nugroho

setelah shalat isya, apakah disunnahkan shalat Ba’da isya 2 rakaat sebelum shalat tarawih nerjamaah?

Didit Fitriawan berkata…
Berdasarkan keumuman hadits Ummu Habibah, maka termasuk disunnahkan sebelum tarawih untuk shalat rawatib dulu. Wallahua’lam…

23 08 2010
Abi Nadia

Subhanallah, di akhirat yang kekal memang kita butuh tempat berlindung, tentu dengan semua fasilitas yang belum pernah terbayangkan ada di dunia. Griya Multifungsi, dan Multiguna so pasti. Syukron untuk ilmunya. Jazakallah khoiron katsiiron.

23 08 2010
abu khansa

Assalamualaikum ustadz
Skrg sangat susah dilakukan terutama rawatib yg qobliyah karena pendeknya jarak antara adzan dan iqomah, apalagi yg sebelum zuhur 4 rakaat.
Bolehkah kita melakukan sholat rawatib di rumah sebelum ke masjid meski kita tahu bila melakukannya maka akan ketinggalan takbiratul ikram?

Didit Fitriawan berkata…
Wa’alaikumussalaam warahmatullah.
Manggilnya akhi saja, pak abu khansa.
Lebih baiknya jika memang tidak sanggup empat rakaat karena keterbatasan waktu antara adzan dan iqamah, kita diperbolehkan shalat sunnah 2 rakaat saja. Hal ini telah dijelaskan oleh Syaikh Abdullah alu Bassam,” Terkadang beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at dan terkadang empat. Hadits yang menyatakan bahwa beliau shalat sunnah 2 rakaat qobliyah dhuhur berasal dari jalan Abdullah bin ‘Umar.” [dikutip dari buku Ta-udhihul-Ahkâm min Bulughul-Maram, II/382-383]
Jadi silahkan dipilih pak abu khansa.
akan tetapi jangan sampe tertinggal takbiratul ikram, karena tidaklah shalat sunnah melebihi keutamaan shalat wajib. Wallahua’lam.

14 09 2010
Fauzan

Thanks buat ilmunya. InsyaAllah manfaat,amin…

21 11 2010
Abu Usamah Al Banyumasi

nasehat indah sob..lanjutkan..

5 12 2010
anang

sya sorang yg mls tuk mlaksnkn sunnh.. kasi cranya dong agr sy bisa mmbiasakn mlksnakn sunnh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: