Tarawih Selesai, Eits Jangan Pulang Dulu Mas…!

18 08 2010

pulang...?

lho kok pulang...?

Lama tidak menulis sebuah ilmu yang kami dapat saat kajian ustadz – ustadz ahlus sunnah di tempat tinggal kami, membuat sedikit jengah juga. Semoga ketergelitikan ini akan menjadi bermanfaat bagi kaum muslimin yang berkenan meluangkan waktunya sedikit untuk membaca sebuah risalah kecil ini.

Berawal dari sebuah pertanyaan perihal “para jama’ah shalat tarawih yang banyak meninggalkan masjid, pulang ke rumah – rumah mereka untuk MENGERJAKAN SHALAT WITIR di rumah.” Iya, demikianlah kenyataan yang terjadi di sekitar lingkungan tempat tinggal kami, baik di masjid – masjid besar maupun di surau2 kecil.

Saya tidak tau, apakah gerangan yang memotivasi mereka untuk segera meninggalkan masjid saat shalat tarawih selesai, dan menyisakan shalat witirnya di rumah. Mungkin banyak kaum muslimin yang menganggap hal itu adalah sebuah keutamaan dan mendatangkan banyak pahala. Namun sesuaikah hal ini dengan sunnah?

Untuk menjawabnya, akan kami hadirkan sebuah hadits shahih berikut ini…

عَنْ أَبي ذَرٍ رضي الله عنه قَالَ : لَفلمَّا كانت الخَامِسَةُ قام بِنَا حتَّى ذَهَبَ شطْرُ اللَّيلِ فَقُلتُ: يا رَسُولَ الله، لو نَفَلْتَنَا قِيَامَ هذهِ اللَّيلةِ، قَالَ: فَقَالَ: إنَّ الرَّجُلَ إذا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنصَرِفَ حُسِبَ له قِيَامُ لَيلَةٍ،

Abu Dzar radliyallahu’anhu menceritakan [yang kurang lebih artinya],” Ketika malam tersisa lima hari lagi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama kami hingga berakhir/selesai pada waktu tengah malam. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana seandainya kita shalat lagi pada (sisa) malam ini?”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Sesungguhnya, seseorang yang shalat bersama imam hingga selesai, maka dihitung baginya shalat semalam suntuk”. [HR. Abu Dawud (no. 1375), At-Tirmidzi (no. 806)]

Ya, jika kita telaah sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentunya kita sepatutnya mengkoreksi tindakan kita ketika memutuskan pulang untuk meninggalkan shalat witir bersama imam dan pulang ke rumah.
Mengapa…? Karena hal ini akan sangat merugikan kita. Kita akan kehilangan keutamaan pahala shalat semalam
suntuk…!!!

Bahkan ketika Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah ditanya ,”Mana yang engkau senangi shalatnya seseorang bersama manusia di bulan ramadhan ataukah ia shalat sendirian?

Maka beliau menjawab, ”Jika ia shalat bersama manusia, maka ia telah menghidupkan sunnah”. Beliau menambahkan, ”Aku menyukai untuk shalat bersama imam dan witir bersamanya” [dlm. buku Tuhfatul-Ahwadzi (III/448)]

Maka dari itu, melalui sebuah tulisan ringan ini, mari kita kembali menghidupkan sunnah yang kini mulai banyak ditinggalkan segelintir dari kaum muslimin yang mungkin belum mengetahui keagungan sunnah yang agung ini… Semoga secarik tulisan ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Amin ya rabb.

—+++—

Ditulis Didit Fitriawan di saat malam 9 Ramadhan pkl. 22.41 WIB di Sidoarjo


Actions

Information

4 responses

18 08 2010
Arief Rakhman

betul betul betul, nanggung banget.. Skalian witir dong!

Very nice post mas,

19 08 2010
Abu Yusuf

OK, insya Allah I would not go home immediately brother…
I would completed my target first…
see ye at thaybah… ^_^

best Regards
-abu yusuf-

21 08 2010
bismillah

bismillah… ikut gabung ya…
menurut ana…bleh jadi mereka yg pulang duluan dan shalat witir di rumah,,, bs disebabkan :
1. beranggapan bahwa shlat witir adalah sholat penutup…padahal ada di antara mereka yg ingin sholat lail lagi pada sepertiga malam,,,,
2. sholat witir yang dilakukan di masjid/surau oleh imam itu 2+1 rakaat.. bukan 3 rakaat sekaligus….jd mereka shalat witir di rumah 3 rakaat dg 1 salam….


Didit Fitriawan berkata…

Wah ada mbak hen rek…
1. Meskipun telah shalat witir, boleh saja untuk menambah shalat lagi di tengah malam nanti.
Sebagian ulama dari sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan yang lainnya berpendapat bahwa jika seseorang mengerjakan Witir di awal malam dan setelah tidur kemudian bangun lagi di akhir malam, maka dia boleh mengerjakan shalat yang dia kehendaki dan tidak perlu menggugurkan Witir yang telah dikerjakannya, serta membiarkan Witir itu seperti apa adanya. Itulah yang menjadi pendapat Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, Ibnu Mubarok, asy-Syafi’i, penduduk Kufah, dan Ahmad.

Pendapat inilah yang lebih shahih. Sebab, diriwayatkan dari satu jalan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengerjakan shalat setelah mengerjakan Witir.[HR. At Tirmidzi (II/334)]

Syaikh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul mengatakan: ”Dapat saya katakan bahwa apa yang dikemukakan oleh Imam Tirmidzi rahimahullah: ”Inilah yang lebih shahih”.[dikutip dari buku Meneladani Sholat-Sholat Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam” oleh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul, penerbit: pustaka Imam Syafi’i, hlm.99]

Dalilnya adalah sebuah riwayat yang disebutkan:

”Beliau mengerjakan shalat tiga belas rakaat: beliau shalat delapan kemudian Witir. Setelah itu, mengerjakan shalat dua rakaat dalam keadaan duduk. Jika hendak ruku’, beliau berdiri dan ruku’. Selanjutnya beliau mengerjakan shalat sua rakaat diantara adzan dan iqomah shalat Shubuh” (Hadits Shahih, Diriwayatkan oleh Syaikhani)[Dikutip dari Ibid, hlm. 77]

Berdasarkan hadist diatas, tindakan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menunjukkan bahwa sabda beliau: ”Jadikanlah akhir shalat kalian pada malam hari, ganjil (Witir),” merupakan petunjuk untuk melakukan yang terbaik sehingga dibolehkan bagi seorang muslim untuk mengerjakan shalat setelah shalat Witir dan tidak ada dosa baginya dalam masalah itu.

Hal tersebut diperkuat oleh apa yang diriwayatkan dari Tsauban, dia bercerita: ”Kami pernah berada dalam suatu perjalanan bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

”Sesungguhnya perjalanan ini sangat melelahkan dan memberatkan. Oleh karena itu, barangsiapa diantara kalian telah mengerjakan shalat Witir, hendaklah ia mengerjakan dua rakaat. Jika dia terbangun (dia bisa melanjutkan shalat malamnya), dan jika tidak, keduanya sudah cukup baginya.” (Diriwayatkan oleh ad-Darimi, Ibnu Khuzaiman, dan Ibnu Hibban)[Silsilah Al-Ahadits ash-Shahihah (no. 1993)].

Itu menunjukkan bahwa maksud dari perintah menjadikan akhir shalat malam sebagai Witir dengan satu rakaat. Hal itu tidak bertentangan dengan shalat dua rakaat yang dikerjakan setelahnya, sebagaimana yang ditetapkan dari perbuatan dan perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Wallahua’lam
2. Untuk yang kedua itu tidak seberapa masalah mbak hen. Hanya perbedaan fikih saja. Wallahua’lam…

22 08 2010
rizki aji

mungkin mereka khawatir tertinggal Cinta Fitri atau Kuis Ramadhan yang marak di televisi belakangan hari ini stadz…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: