Aku Terdiam…

29 03 2010

Ketika mengalun sebuah nasehat dari seorang wanita setengah baya,” ati – ati, nak… ilat’e manungsa kuwi landhep, iso ngelarani wong liya. dijaga, ojo nganti metu omongan – omongan sing nglarani wong liya…”[1], aku tediam…!

Ya, aku terdiam tidak percaya. Apa benar perkataanku sering menyakitkan manusia…? Aku coba tanyakan kembali kepada wanita tersebut,” apa perkataan saya sering menyakitkan orang bu?”

Tenyata kemudian ibu itu tersenyum sambil berucap,” wallahua’lam, ibu ora weruh. digerabak jitho’e. sing penting, sing ngati – ati…becik ketitik ala ketara…”[2]

Kemudian dari perkataan wanita yang telah melahirkan, merawat dan mendidikku itu, aku hanya bisa terdiam. Meratapi dan merenungi sebuah kejadian yang di sana, meluncur sebuah kata dari lidah seorang manusia.

Tiba – tiba saja memori ini membawa pikiranku pada suatu saat & tempat. Beberapa waktu yang lalu, ketika sedang mengantar salah seorang saudara menuju sebuah percetakan. Menuju percetakan itu berhajat untuk merampungkan TA = Tugas Aneh, dalam hal menjilid & mencetak sebuah poster.

Ribet…, cukup ribet proses di dalamnya, sehingga membuat hati ini sedikit jengah untuk memandang suasana sekitar. Kesal dengan keadaan, tiba – tiba tanpa diberikan aba – aba & komando, sebuah kata ringan, namun tak akan pernah bisa terlupakan untuk diambil pelajaran. “Kesuwen…!” [3] meluncur begitu saja dari lidah yang tak terkunci ini…kontan saja, penerima kata – kata itu menjadi tercengang. Betapa tidak…! Ruwetnya proses mencetak tugas akhir itu, tidak dihargai dengan sebuah senyum yang menyejukkan & kata – kata yang menentramkan, eh malah “dingambek’in” dengan satu kata tersebut.

Masya Allah, sontak saudara itu terdiam…!

Betapa kejam kata yang keluar dari mulut itu menghunus kalbu…! Menyayat hati…!

————-+++——————

Astaghfirullah, astaghfirullah…

Seketika itu aku belajar. Belajar suatu hal, yang insya Allah bisa kita masukkan ke dalam saku sebagai bekal mengarungi hidup yang tak lama, tak sederhana & tak terlalu istimewa ini…

Yang pertama aku belajar untuk BERKATA YANG BAIK… atau… jika aku tak mampu, maka AKU DIAM.

Ya…

Aku belajar tentang sebuah hal, yang ternyata Nabi ‘alaihi ash shalatu wa sallam telah mengajarkannya kepadaku, kepada kaum muslimin semenjak 1400 tahun yang lalu.

Beliau bertutur…

من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليقل خيرا أو ليصمت
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.” [4]

Aku belajar bagaimana seharusnya bertutur kata dan bertegur sapa. Betapa kalimat yang baik & santun itu amat diperlukan dalam setiap suasana, kepada setiap manusia. Kepada semua manusia baik tua maupun muda, baik lelaki atau wanita baik orang kaya atau orang miskin, dan lainnya…

Aku belajar untuk menjaga lidah kepada manusia. Bertutur dengan perkataan yang lembut, kepada manusia – manusia, entah itu manusia yang baik maupun manusia yang jahat. Bagaimana tidak demikian, jika orang terjahat di muka bumi ini saja yaitu Fir’aun, Allah perintahkan Nabi Musa ‘alaihis salam untuk berkata dengan “qoulan” layyinah” atau perkataan yang lembut.[5]

Aku belajar dan aku mengerti, bahwa perkataan baik itu menentramkan hati dan menyejukkan jiwa.

Aku belajar untuk menahan lidah, menahan dari perkataan yang menyakitkan, perkataan yang tercela, perkataan yang dengannya manusia tidak merasa aman dari kita…

Dan aku belajar, bahwa MENAHAN LIDAH ITU SEBAIK – BAIK & SEINDAH – INDAHNYA PELAJARAN.

‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Barang siapa banyak pembicaraannya, banyak pula tergelincirnya. Dan barang siapa banyak tergelincirnya, banyak pula dosanya. Dan barang siapa banyak dosa-dosanya, neraka lebih pantas baginya” [6]

Ibnu Buraidah berkata: “Aku melihat Ibnu `Abbas memegangi lidahnya sambil berkata, `Celaka engkau, katakanlah kebaikan, engkau mendapatkan keberuntungan. Diamlah dari keburukan, niscaya engkau selamat. Jika tidak, ketahuilah bahwa engkau akan menyesal`.”[7]

Dan AKU BELAJAR dari perkataan seorang salaf…

“Diam adalah ibadah tanpa kelelahan, keindahan tanpa perhiasan, kewibawaan tanpa kekuasaan. Anda tidak perlu beralasan karenanya, dan dengannya aibmu tertutupi“.[8]

Ya Rabb, kuatkan kami untuk mengamalkan semua kebaikan ini…

Kami khawatir hal ini…
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ

“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama 70 tahun di dalam neraka.” [9]

…akan menimpa kami, tsumma NA’UDZUBILLAHI MIN DZALIIK.

Wahai rabb, jadikanlah lidah kami, lidah pembawa rahmat dan kesejukan bagi orang lain…

Jangan engkau jadikan lidah kami, lidah yang dengannya manusia murka, dengannya hati manusia tersayat dan dengannya manusia melaknat…

Jadikan lisan ini penghantar kami menuju jannahMu yang mulia…

……….

Didit Fitriawan, di sebuah hening malam Kota Surabaya 29 Maret 2010

Catatan:

[1].      “Hati – hati nak, lidah manusia itu tajam. Bisa menyakitkan hati orang lain. Dijaga ya, jangan sampai  keluar perkataan yang menyakitkan orang.”

[2]       “Wallahua’lam, ibu tidak tau. Diraba saja tengkuknya. Yang penting hati – hati. Kebaikan itu bisa kelihatan & kejelekanpun akan tampak.”

[3]       “Kelamaan”

[4]       [Hadits shahih, riwayat Imam al Bukhari (VII/ 184 no.6475) dan Muslim (I/68 no. 74), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

[5]       QS. Thaha ayat 43-44

[6]       Diambil dari kitab Jami’ul ‘Ulûm wal Hikam, Juz 1, hlm. 339.

[7]       Diambil dari kitab Afatul-Lisan fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm. 161.

[8]       Diambil dari kitab Hashâ`idul-Alsun, hlm. 175-176.

[9]       HR. At-Tirmidzi, no. 2314, dikatakan hasan shahih oleh Asy Syaikh al Albani


Actions

Information

6 responses

29 03 2010
maramis setiawan

fal yaqul khoiron aw liyasmuts

1 04 2010
yoriyuliandra

Yup, thanks in advice…
Kadang emang kita tidak sadar bahwa perkataan kita berada pada posisi tidak sebagaimana mestinya, bahkan membahayakan diri sendiri dan orang lain, baik sekarang maupun nanti…

Salam ukhuwah…

8 04 2010
bagus tejo pramono

:)

akh… aku kesepian disini.

10 04 2010
Muliadi

Assalamu’alaikum

Sungguh setiap manusia itu mempunyai fitrah negatif dan positif. tinggal kita aja mau condong yang mana. dan manusia itu tidak akan luput dari kesalahan maka Allah memberi keringanan untuk meminta tobatnya. karena itu kita bukan hanya berhati-hati akan tetapi juga berlomba-lomba dalam kebaikan agar setiap kebaikan yang kita lakukan dapat menebus kesalahan yang telah kita perbuat.

“Semoga Allah selalu meringankan langkah kaki kita untuk selalu melakukan kebaikan”

keep build your spirit guy….!!! :P

Wassalamu’alaikum.

13 04 2010
vaepink

Bicara yang baik akan membawa kebaikan dan diam adalah benteng bagi lidah agar tidak mengucapkan perkataan yang sia-sia…. :)

14 05 2010
Rizki Aji

good job bro..setiap hidup adalah nasehat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: