2 Untai Nasehat

13 04 2009


Nasehat yang pertama…

Jangan engkau suka mendengarkan pembicaraan orang, padahal orang tersebut tidak mengetahui…

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Dan janganlah kamu suka mencari keburukan orang lain…” (Al Hujurat : 12).

Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata:

“Barangsiapa mendengarkan pembicaraan suatu kaum sedang mereka membenci hal itu, niscaya dituangkan ke kedua telinganya timah mendidih pada hari kiamat” (HR Al Bukhari, Fathul Bari:10/465)

Jika ia menyebarkan pembicaraan itu tanpa sepengetahuan mereka dengan maksud mencelakakan, maka berarti ia menambah jenis dosa lain, dosa tajassus (mencuri dengar) yakni dosa mengadu domba, padahal Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Tidak masuk surga tukang adu domba” (HR Ibnu Majah : 1/505, dalam Shahihul Jami’ : 5068).

Nasehat yang kedua…

Jangan kau putuskan hubungan dengan saudara muslimmu lebih dari tiga hari…

Di antara langkah syaitan dalam menggoda dan menjerumuskan manusia adalah dengan memutuskan tali hubungan antara sesama umat Islam. Ironinya, banyak umat Islam terpedaya mengikuti langkah langkah syaitan itu. Mereka menghindar dan tidak menyapa saudaranya sesama muslim tanpa sebab yang dibenarkan syara’. Misalnya karena percekcokan masalah harta atau karena situasi buruk lainnya.

Terkadang, putusnya hubungan tersebut langsung terus hingga setahun. Bahkan ada yang sumpah untuk tidak mengajaknya bicara selama-lamanya, atau bernadzar untuk tidak menginjak rumahnya. Jika secara tidak sengaja berpapasan di jalan ia segera membuang muka. Jika bertemu di suatu majlis ia hanya menyalami yang sebelum dan sesudahnya dan sengaja melewatinya. Inilah salah satu sebab  kelemahan dalam masyarakat Islam. Karena itu, hukum syariat dalam masalah tersebut amat tegas dan ancamanya pun sangat keras.

Abu Hurairah Radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Tidak halal seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari, barang siapa memutuskan lebih dari tiga hari dan meninggal maka ia masuk neraka”  (HR Abu Dawud, 5/215, Shahihul Jami’ : 7635)

Abu Khirasy Al Aslami Radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa memutus hubungan dengan saudaranya selama setahun maka ia seperti mengalirkan darahnya (membunuhnya) ” (HR Al Bukhari Dalam Adbul Mufrad no : 406, dalam Shahihul Jami’: 6557)

Untuk membuktikan betapa buruknya memutuskan hubungan antara sesama muslim cukuplah dengan mengetahui bahwa Allah menolak memberikan ampunan kepada mereka. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu , Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“semua amal manusia diperlihatkan (kepada Allah) pada setiap Jum’at (setiap pekan) dua kali; hari senin dan hari kamis. Maka setiap hamba yang beriman diampuni (dosanya) kecuali hamba yang di antara dirinya dengan saudaranya ada permusuhan. Difirmankan kepada malaikat :” tinggalkanlah atau tangguhkanlah (pengampunan untuk) dua orang ini sehingga keduanya kembali berdamai” (HR Muslim : 4/1988)

jika salah seorang dari keduanya bertaubat kepada Allah, ia harus bersilaturrahim kepada kawannya dan memberinya salam. Jika ia telah melakukannya, tetapi sang kawan menolak maka ia telah lepas dari tanggungan dosa, adapun kawannya yang menolak damai, maka dosa tetap ada padanya.

Abu Ayyub Radhiallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Tidak halal bagi seorang laki-laki memutuskan hubungan saudaranya lebih dari tiga malam. Saling berpapasan tapi yang ini memalingkan muka dan yang itu (juga) membuang muka. Yang terbaik di antara keduanya yaitu yang memulai salam” (HR Bukhari, Fathul Bari : 10/492)

Tetapi jika ada alasan yang dibenarkan, seperti karena ia meninggalkan shalat, atau terus menerus melakukan maksiat sedang pemutusan hubungan itu berguna bagi yang bersangkutan misalnya membuatnya kembali kepada kebenaran atau membuatnya merasa bersalah maka pemutusan hubungan itu hukumnya menjadi wajib. Tetapi jika tidak mengubah keadaan dan ia malah berpaling, membangkang, menjauh, menantang, dan menambah dosa maka ia tidak boleh memutuskan hubungan dengannya. Sebab perbuatan itu tidak membuahkan maslahat tetapi malah mendatangkan madharat. Dalam keadaan seperti ini, sikap yang benar adalah terus-menerus berbuat baik dengannya, menasehati dan mengingatkannya.

Seperti  hajr (pemutusan hubungan) yang dilakukan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam kepada Ka’ab bin Malik dan dua orang kawannya, karena beliau melihat dalam hajr tersebut terdapat maslahat. Sebaliknya bila menghentikan hajr kepada Abdullah bin Ubay bin Salul dan orang-orang munafik lainnya karena hajr kepada mereka tidak membawa faidah. [Keterangan : Syaikh Bin Baz]

Dipetik dari nasehat Asy Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid, dengan rekomendasi Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz ibn Bazz -rahimahullah-, tanggal  11-Ramadhan-1414H



Actions

Information

10 responses

13 04 2009
kodir

izin untuk dicopy dan disebarkan bagi yg tidak tahu.

13 04 2009
l5155st™

iya, silahkan mas Kodir…

13 04 2009
Anonymous

Bismillahirrahmanirrahim,

Afwan, apakah memang benar ada bagian dari surat al-Hujurat ayat 11 yang bunyi terjemahannya seperti ini?

“Dan janganlah kamu mengintai orang lain…”

Didit Fitriawan berkata…
Barakallahu Fiyka…
Sekaligus sebagai ralat. Yang benar adalah QS. Al Hujurat ayat 12, “wa laa tajassasu…” / dan janganlah mencari keburukan – keburukan orang…”
Jazakallahu khairan…

16 04 2009
Anonymous

wa fiikum barakallah…
wa iyyakum…

13 04 2009
Julia Agoes

Kajian yang sangat menggugah hati saya. Umumnya kita mampu melakukan solat malam ataupun puasa puasa sunnah, namun ternyata kita sering tidak mampu menjaga pendengaran dan lisan padahal akibatnya berat sekali untuk ditanggung walaupun ringan dilakukan. Bolehkah saya ikut mengkopi menyebarkan nasihat ini, sayang kalau banyak yang tidak tahu. Trima kasih.

13 04 2009
alhumairoh

izin untuk di baca ya akhi.. ;)

13 04 2009
l5155st™

monggo, ukhti…

13 04 2009
shofiyah

Assalamu’alaykum
uummmmm,,
izin copy juga paK!
^_^

13 04 2009
l5155st™

Wa’alaikumussalam warahmatullah.
iya, monggo ukhti shofiyah… :)

16 04 2009
Prasetyo Muchlas

Assalamu’alaikum, syukron atas tulisan yang mengandung nasihat ^^
agama itu nasihat.. dan semoga kita tetap dapat saling menasihati dengan kesabaran dan ketaqwaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: