Tak Kenal, Maka Tak Sayang…

6 02 2009
semoga...

kenali beliau...

Tenangkan hati, baca tulisan ini perlahan…semoga bermanfaat untuk teman – teman sekalian. Insya Allah…

Teman – teman tahu gak sih, apa itu Wahhabi…???

Orang-orang biasa menuduh “wahabi ” kepada setiap orang yang melanggar tradisi, kepercayaan dan bid’ah masyarakat pada umumnya, sekalipun kepercayaan-kepercayaan mereka itu rusak, bertentangan dengan Al-Qur’anul Karim dan hadits-hadits shahih. Mereka menentang dakwah kepada tauhid dan enggan berdo’a (memohon) hanya kepada Allah semata.

Suatu hari…

di depan seorang syaikh, penulis (Muhammad ibn Jamil Zainu) membacakan hadits riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam kitab Al-Arba’in An-Nawa-wiyah. Hadits itu berbunyi.

Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepa-da Allah.” [HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih]

Penulis sungguh kagum terhadap keterangan Imam An-Nawawi ketika beliau mengatakan, “Meminta hidayah (petunjuk), ilmu, kesembuhan dari sakit dan kesehatan maka hal-hal itu (mesti) memintanya hanya kepada Allah semata. Dan jika hal-hal di atas dimintanya kepada makhluk maka itu amat tercela.”

Lalu kepada syaikh tersebut penulis katakan, “Hadits ini berikut keterangannya menegaskan tidak dibolehkannya meminta pertolongan kepada selain Allah.”

Ia lalu menyergah, “Malah sebaliknya, hal itu dibolehkan!”

Penulis lalu bertanya, “Apa dalil anda?”

Syaikh itu ternyata marah sambil berkata dengan suara tinggi, “Sesungguhnya bibiku berkata, wahai Syaikh Sa’d!”(syaikh Sa’d adalah orang shalih yang sudah mati)

dan Syaikh itu bertanya padanya, “Wahai bibi, apakah Syaikh Sa’d dapat memberi manfaat kepadamu?”

Si bibi menjawab, “Aku berdo’a (meminta) kepadanya, sehingga ia menyampaikannya kepada Allah, lalu Allah menyembuhkanku.”

Lalu penulis berkata, “Sesungguhnya engkau adalah seorang yang ‘alim. Engkau banyak habiskan umurmu untuk membaca kitab-kitab. Tetapi sungguh mengherankan, engkau justru mengambil akidah dari bibimu yang bodoh itu.”

Ia lalu berkata, “Pola pikirmu adalah pola pikir wahabi. Engkau pergi berumrah lalu datang dengan membawa kitab-kitab wahabi.”

Padahal penulis tidak mengenal sedikitpun tentang wahabi kecuali sekedar penulis dengar dari para syaikh. Mereka berkata tentang wahabi, “Orang-orang wahabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka tidak percaya kepada para wali dan karamah-karamahnya, tidak mencintai Rasul dan berbagai tuduhan dusta lainnya.”

Jika orang-orang wahabi adalah mereka yang percaya hanya kepada pertolongan Allah semata, dan percaya yang menyembuhkan hanyalah Allah, maka aku wajib mengenal wahabi lebih jauh.”

Kemudian penulis tanyakan jama’ah Syaikh tersebut, sehingga penulis mendapat informasi bahwa pada setiap Kamis sore mereka menyelenggarakan pertemuan untuk mengkaji pelajaran tafsir, hadits dan fiqih.

Bersama anak-anak penulis dan sebagian pemuda intelektual, penulis mendatangi majelis mereka. Kami masuk ke sebuah ruangan yang besar. Sejenak kami menanti, sampai tiada berapa lama seorang syaikh yang sudah berusia masuk ruangan. Beliau memberi salam kepada kami dan menjabat tangan semua hadirin dimulai dari sebelah kanan, beliau lalu duduk di kursi dan tak seorang pun berdiri untuknya.

Penulis berkata dalam hati, “Ini adalah seorang syaikh yang tawadhu’ (rendah hati), tidak suka orang berdiri untuknya (dihormati).”

Lalu syaikh membuka pelajaran dengan ucapan,

“Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah. Kepada Allah kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan.”, dan selanjutnya hingga selesai, sebagaimana Rasulullah Shalallaahu alaihi wa sallam biasa membuka khutbah dan pelajarannya.”

Kemudian Syaikh itu memulai bicara dengan menggunakan bahasa Arab. Beliau menyampaikan hadits-hadits seraya menjelaskan derajat shahihnya dan para perawinya. Setiap kali menyebut nama Nabi, beliau mengucapkan shalawat atasnya. Di akhir pelajaran, beberapa soal tertulis diajukan kepadanya. Beliau menjawab soal-soal itu dengan dalil dari Al-Qur’anul Karim dan sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam . Beliau berdiskusi dengan hadirin dan tidak menolak setiap penanya.

Di akhir pelajaran, beliau berkata, “Segala puji bagi Allah bahwa kita termasuk orang-orang Islam dan salaf.(orang – orang yang mengikuti jalan Rasulullah, sahabat dan tabi’ien). Sebagian orang menuduh kita orang-orang wahabi. Ini termasuk tanaabuzun bil alqaab (memanggil dengan panggilan-panggilan yang buruk). Allah melarang kita dari hal itu dengan firmanNya,

“Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” [QS. Al-Hujurat: 11]

Dahulu, orang – orang menuduh Imam Syafi’i dengan rafidhah.

Namun Imam asy Syafi’ie membantah mereka dengan mengatakan, “Jika rafidhah (berarti) mencintai keluarga Muhammad. Maka hendaknya jin dan manusia menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah rafidhah.”

Maka, kita juga membantah orang-orang yang menuduh kita wahhabi, dengan ucapan salah seorang penyair, “Jika pengikut Ahmad adalah wahhabi. Maka aku berikrar bahwa sesungguhnya aku wahhabi.


Ketika pelajaran usai, kami keluar bersama-sama sebagian para pemuda. Kami benar-benar dibuat kagum oleh ilmu dan kerendahan hatinya. Bahkan aku mendengar salah seorang mereka berkata, “Inilah syaikh yang sesungguhnya!”

PENGERTIAN WAHABI
Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab, Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada nama beliau yaitu Muhammad. Betapapun begitu, ternyata Allah menghendaki nama wahhabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang paling baik (Asmaa’ul Husnaa).

Jika shufi menisbatkan namanya kepada jama’ah yang memakai shuf (kain wol) maka sesungguhnya wahhabi menisbatkan diri mereka dengan Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu Allah yang memberikan tauhid dan meneguhkannya untuk berdakwah kepada tauhid.

SIAPAKAH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB…???

cintai beliau

cintai beliau

Beliau dilahirkan di kota ‘Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Qur’an sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hambali, belajar hadits dan tafsir kepada para syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota Madinah. Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Perasaan beliau tersentak setelah menyaksikan apa yang terjadi di negerinya Nejed dengan negeri-negeri lainnya yang beliau kunjungi berupa kesyirikan, khurafat dan bid’ah. Demikian juga soal menyucikan dan mengkultuskan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar.

Ia mendengar banyak wanita di negerinya bertawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, “Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun ini.”

Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para sahabat, keluarga Nabi (ahlul bait), serta kuburan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah semata.

Di Madinah, ia mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, serta berdo’a (memohon) kepada selain Allah, hal yang sungguh bertentangan dengan Al-Qur’an dan sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Al-Qur’an menegaskan:

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” [QS. Yunus : 106]

Zhalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas:

“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah.” [HR. At-Tirmidzi, ia berkata hasan shahih)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaumnya kepada tauhid dan berdo’a (memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain. Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang shalih), adalah dengan mengikuti amal shalihnya, tidak dengan menjadikannya sebagai perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat bermohon selain daripada Allah.

[1]. Penentangan Orang-Orang Batil Terhadapnya
Para ahli bid’ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh tauhid telah ada sejak zaman Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Bahkan mereka merasa heran terhadap dakwah kepada tauhid. Allah berfirman:

“Artinya : Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” [QS. Shaad : 5]

Musuh-musuh syaikh memulai perbuatan kejinya dengan memerangi dan menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka bersekongkol untuk membunuhnya dengan maksud agar dakwahnya terputus dan tak berkelanjutan. Tetapi Allah Subhannahu wa Ta’ala menjaganya dan memberinya penolong, sehingga dakwah tauhid terbesar luas di Hejaz, dan di negara-negara Islam lainnya.

Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya mereka mengatakan, dia (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) adalah pembuat madzhab yang kelima, padahal dia adalah seorang penganut madzhab Hambali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang wahhabi tidak mencintai Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam serta tidak bershalawat atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.

Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab -rahimahullah- telah menulis kitab “Mukhtashar Siiratur Rasuul Shalallaahu alaihi wasalam “. Kitab ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengada-adakan berbagai cerita dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang karenanya mereka bakal dihisab pada hari Kiamat.

Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran, niscaya mereka akan menemukan Al-Qur’an, hadits dan ucapan sahabat sebagai rujukannya.

Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis, bahwa ada salah seorang ulama yang memperingatkan dalam pengajian-pengajiannya dari ajaran wahhabi. Suatu hari, salah seorang dari hadirin memberinya sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih dahulu nama pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang dibaca, mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahab.

[2]. Dalam Sebuah Hadits Disebutkan:

” Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di negeri Syam, dan di negeri Yaman. Mereka berkata, ‘Dan di negeri Nejed.’ Rasulullah berkata, ‘Di sana banyak terjadi berbagai kegoncangan dan fitnah, dan di sana (tempat) munculnya para pengikut setan.” [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dan ulama lainnya menyebutkan, yang dimaksud Nejed dalam hadits di atas adalah Nejed Iraq. Hal itu terbukti dengan banyaknya fitnah yang terjadi di sana. Kota yang juga di situ Al-Husain bin Ali Radhiyallahu anhuma dibunuh.

Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwa yang dimaksud dengan Nejed adalah Hejaz, kota yang tidak pernah tampak di dalamnya fitnah sebagaimana yang terjadi di Iraq. Bahkan seba-liknya, yang tampak di Nejed Hejaz adalah tauhid, yang karenanya Allah menciptakan alam, dan karenanya pula Allah mengutus para rasul.

[3]. Sebagian Ulama Yang Adil Sesungguhnya Menyebutkan
Bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah seorang mujaddid (pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah Syaikh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang “Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah”, di antara mereka terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin ‘Irfan.

Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, akidah tauhid sampai ke India dan negeri-negeri lainnya melalui jama’ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni Inggris yang menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi akidah tauhid tersebut. Hal itu dilakukan karena mereka mengetahui bahwa akidah tauhid akan menyatukan umat Islam dalam melawan mereka.

Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqah agar mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid yang menyeru kepada tauhid dengan kata wahabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan dari tukang bid’ah, sehingga memalingkan umat Islam dari akidah tauhid yang menyeru agar umat manusia berdo’a hanya semata-mata kepada Allah. Orang-orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata wahabi adalah nisbat kepada Al-Wahhaab (yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari Nama-nama Allah yang paling baik (Asma’ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan menjanjikannya masuk Surga.

Semoga bermanfaat…


Dikutip oleh Didit Fitriawan dari Buku “Minhajul Firqah An-Najiyah Wat Thaifah Al-Manshurah”, terjemahan bhs. Indonesia “Jalan Golongan Yang Selamat” yang ditulis oleh Asy Syaikh Muhammad ibn Jamil Zainu, Pustaka Darul Haq.


Actions

Information

13 responses

6 02 2009
yanto

Tidak sedikit orang islam yang tidak mau meninggalkan tradisi musyriknya.Dan bagi mereka ini buta hati kepada hakekat agamanya yang sudah jelas-jelas bertentangan dengan tradisi musyrik.Bukan islam itu berarti pasrah dengan hukum Allah dan RasulNya semata.Barang siapa menghukum dengan selain hukum Allah dan RasulNya maka segala amalnya selama ini bagaikan debu yang beterbangan,hilang musnah bersama tiupan angin.Kalau Islam tidak bertentangan dengan tradisi musyrik maka tak kan terjadi pergumulan yang berdarah-darah dengan kaum Quraisy Mekkah.Dan Rasulpun tidak perlu hijrah ke Madinah untuk sisr Islam.Sebab tak akan ada hambatan dari kaum musyrikin.

6 02 2009
alhumairoh

baca postingan ini harus daLam suasana hati yang tenang.
peLan2 dan sabar daLam membacanya..
;)

6 02 2009
LoveAlloh_atik

Assalamu’alaikum
lama g kesini..
sunhanallah…
banyak banget tulisannya
trs berkarya ya,
brbagi pada yg lainnya..

Didit Fitriawan berkata…
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuhu.
Insya Allah…

6 02 2009
LoveAlloh_atik

afwan salah ketik,
bukan sunhanallah, tp subhanallah…

6 02 2009
dipo

posting yang bagus

7 02 2009
dedi

Dan Satu LAgi Diantara Mereka …..Jika Kita Mendakwahkan TAuhid Dan Semacamnya YAng Sesuai Dengan Pemahaman PAra Sahabat ,,,,Hingga bertentangan Dengan Raqyu Dan Pemahaman Mereka ………….Mereka Selalu Berkilah “……ITUKAN NGAK ADA DALAM TRADISI LELUHUR>>>>>>MAsya Allah ……Barakallahu Fiikum…

Didit Fitriawan berkata…
Wa fiyka barakallahu…

8 02 2009
uvi07

bismillah….

semoga Allah berikan kita kecocokan dalam menerima ajaran Allah dan RasulNya…dan tidak membedakan siapa dan di mana kebaikan itu disampaikan….
dan Allah jauhkan kita dari sifat yang hina….
“adat jahiliyah seharusnyalah disirnakan dari keramaian dunia…”
sekarang juga, dan sekecil apapun itu….

wallahul muwaffiq ilaa aqwamit thoriq…
baarokalloohu fii kitaabatikum….

9 02 2009
senyumkusenyummu

barakallahu fiyk maz didit, tulisan yang bermanfaat.

semoga bisa membuat para salafiyyin teguh saat menerpa tuduhan wahhabi


Didit Fitriawan berkata…

wa fiyka barakallahu, saudara sekota-ku!

10 02 2009
Shofiyah

Assalmu’alaykum
salam kenal kunjungan perdana..,

Ana shofiyah


Didit Fitriawan berkata…

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
Salam kenal juga, ukhti. Saya didit fitriawan.

11 02 2009
Dwi abdul hadi

Ketika pelajaran usai, kami keluar bersama-sama sebagian para pemuda. Kami benar-benar dibuat kagum oleh ilmu dan kerendahan hatinya. Bahkan aku mendengar salah seorang mereka berkata, “Inilah syaikh yang sesungguhnya!”.
kalau tidak salah Syaikh yang yang dimaksud adalah Syaikh Muhammad Nasiruddin al albani rohimahulloh .
Tulisan-tulisannya indah santun dan tidak menggurui , apalagi senandung-senandung syaithan indah sekali dan sangat bermanfaat syakarollohu lifadhilatil akh Abi abdirrozaq ‘ala ma qoddam

11 02 2009
rismaka

Assalamu’alaikum….
Mohon dukungannya. ^_^
http://islamicstuff.okebanget.net/

Didit Fitriawan berkata…
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuhu.
Iya akhi.

12 02 2009
ricky

hellooo.. artikel nya bagus2 thanks n salam kenal ya..

17 02 2009
sa

Kalau menurut anda Imam Asy’ari dan imam Maturidi itu imam ahli sunah bukan?

Didit Fitriawan berkata…
Imam Abul hasan al Asy’ari jelas beliau adalah ulama’ ahlus sunnah. Berikut ini saya bawakan fase kehidupan beliau…

Pertama: Fase I’timal, di mana dia hidup menjadi murid Syaikh Mu’tazilah di zamannya Abu Ali al-Jubbai, Abul Hasan mengambil ilmu darinya sehingga dia menjadi penerus dan memegang kursi tertinggi Mu’tazilah selama empat puluh tahun.

Kedua: Fase di mana dia merasa tidak nyaman dan akhirnya melepaskan diri dari Mu’tazilah yang pernah dibelanya. Abul Hasan membuka jalan baru di mana padanya dia mulai mentakwilkan nash-nash dengan takwil yang menurutnya sejalan dengan hukum akal, dia menetapkan sifat yang tujuh melalui akal yaitu: al-Hayat, al-Ilmu, al-Iradah, al-Qudrah, as-Sam’u, al-Bashar dan al-Kalam. Adapun sifat-sifat khabariyah seperti al-Wajhu, al-Yadain, al-Qadam, as-Saq, maka Abul Hasan mentakwilkannya dengan takwil yang menurutnya sejalan dengan hukum-hukum akal. Fase inilah yang dipegang oleh Asy’ariyah dan menjadi titik tolak lahirnya Asy’ariyah.

Ketiga: Fase dimana dia rujuk kepada manhaj salaf, dia menetapkan seluruh sifat Allah tanpa takyif, tamtsil, ta’thil dan tahrif. Dalam fase ini Abul Hasan menulis al-Ibanah fi Ushul ad-Diniyah, dalam kitab ini Abul Hasan menulis bahwa dia memilih manhaj dan akidah Salaf Shalih yang pada masa itu panjinya dipegang oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Abul Hasan berkata, “Pendapat yang kami pegang dan agama yang kami yakini adalah berpegang kepada kitab Rabb kami azza wa jalla dan sunnah Nabi kami saw dan apa yang diriwayatkan dari sahabat , tabiin dan para imam hadits, kami berpegang kepada semua itu dan kami mengatakan apa yang diucapkan oleh Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal –semoga Allah memuliakannya, mengangkat derajatnya dan mengagungkan pahalanya- kami menyelisihi pendapat yang menyelisihi ucapannya (Ahmad bin Hanbal), karena dia adalah imam yang agung, pemimpin yang mulia, dengannya Allah menjelaskan kebenaran, menepis kesesatan orang-orang yang ragu. Semoga Allah melimpahkan rahmat atasnya.”

Dari keterangan ini diketahui bahwa Asy’ariyah merupakan penisbatan kepada Abul Hasan pada fase pemikirannya yang kedua di mana Abul Hasan sendiri telah meninggalkannya dan rujuk kepada akidah dan manhaj Salaf Shalih.

Sedangkan Imam al Maturidi, saya belum mengetahuinya secara pasti. Wallahua’lam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: