Ketika Manhaj-mu Dipertanyakan

3 02 2009
ahlus-sunnah

ahlus-sunnah

Tahukah teman – teman apa itu salafiyyah…???

Salafiyyah adalah manhaj. Ia merupakan metoda memahami Islam; metoda memahami al Qur’an dan Sunnah. Ia bukan suatu “harakah” atau “gerakan” yang muncul pada masa tertentu di zaman ini dengan ditokohi oleh orang atau kelompok tertentu seperti yang disangka oleh sebagian orang yang tidak mengerti, atau tidak mau mengerti, atau apriori terhadap kebenaran. Salafiyah merupakan penisbatan kepada Salaf, dan ini merupakan penisbatan terpuji kepada manhaj (metoda pemahaman terhadap al Qur’an dan Sunnah) yang benar, bukan merupakan madzhab baru yang diada-adakan secara bid’ah.(dlm. buku Basha’ir Dzawi Asy-Syaraf bi Syarhi Marwiyyat Manhaji As-Salaf terbitan Maktabah Al-Furqon, Cet II – 1421H/2000M. Halaman 21)

Salim bin ‘Id al Hilali, dalam hal ini menukil perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam buku beliau Majmu’ Fatawa : “Tidak ada cela bagi orang yang menampakkan, serta menisbatkan diri dan menyandarkan diri kepada madzhab Salaf. Bahkan wajib hukumnya menerima penyandaran dirinya kepada manhaj Salaf itu menurut kesepakatan ulama. Karena sesungguhnya madzhab Salaf, tidak lain kecuali benar”.

Ketika kehadiran kembali manhaj Salaf ini tidak lagi dapat ditolak di tengah ramainya penyimpangan umat, maka banyak kaum pergerakan berami-ramai mencoba menerima manhaj Salaf, bahkan banyak yang mengklaim dirinya bermanhaj Salaf. Akan tetapi manhaj Salaf yang mereka fahami dan mereka terima, umumnya hanya dalam bidang asma’ wa sifat, tidak menyeluruh, karena mungkin mereka menganggap manhaj Salaf ada yang kurang, atau disalah fahami. Banyak kekeliruan dalam memahami konsekuensi uluhiyah, hingga mengakibatkan takfir (menghukumi kafir kepada orang lain) yang tidak pada tempatnya. Dari sini timbul keyakinan dan tindakan-tindakan bid’ah tanpa disadari, seperti perusakan, pembunuhan dan peledakan dengan keyakinan, bahwa semua itu merupakan jihad dan ibadah yang mulia, padahal tidak ada contoh syari’at semacam itu.

Maka saat mereka ingin kembali ke manhaj Salaf, terkesan masih sayang meninggalkan kebiasaan dan disiplin lamanya dalam pergerakan yang sudah dianggap bagus, misalnya sistem berjama’ah, sistem bai’at, sistem kerja, sistem rekruitmen anggota, sistem halaqah, sistem imamah, sistem perjuangan dan jihad, serta sistem-sistem harakah lainnya, yang sebenarnya merupakan pola-pola hizbiyah (fanatisme kelompok). Sebagai akibat mereka mencampurkan antara manhaj Salaf dan manhaj harakah. Aqidah Asma’ wa sifatnya atau sebagian kitab rujukannya adalah Salafi, tetapi pemahaman dan sistemnya adalah harakah, menjadi salafi haraki.

Ketika berkembang kelompok-kelompok salafi haraki inilah (istilah masyhurnya sekarang disebut Sururi), maka manhaj Salaf yang sebenarnya, yang diikuti oleh Salafiyin dicurigai, bahkan dimusuhi oleh mereka, sebab banyak misi mereka yang terganjal oleh manhaj ini.

Di sisi lain muncul pula suatu gerakan dengan warna lain yang seakan benar-benar Salafi, namun sebenarnya menerapkan praktik-praktik hizbi, dengan antara lain menebarkan ilzam-ilzam (pengharusan-pengharusan yang bersifat memaksa) kepada anggota kelompok pengajiannya, sehingga anggauta jama’ah bisa menjadi was-was dan takut dicap tidak Salafi, jika pandangannya berbeda dengan pandangan para pimpinannya. Dengan demikian yang terbaca di luar, kelompok ini menerapkan praktik taklid membabi buta, lebih dari kelompok-kelompok taklid lainnya. Di samping itu, dengan bahasa-bahasa vocal dan tindakan-tindakannya yang kasar, telah menimbulkan kesan bahwa dakwah Salafiyah bersifat kasar dan tidak beradab. Akhirnya dakwah Salafiyah banyak disingkiri umat, karena kesalah fahaman dan ketidak mengertian. Sementara itu, musuh-musuh dakwah Salafiyah pun banyak yang menuduh, bahwa para salafiyin sangat taklid kepada para ulamanya. Padahal tidak!

manhaj-salaf

manhaj-salaf

Untuk itu perlu ditegaskan di sini sikap sebenarnya, meskipun dengan sangat ringkas dan global. Yaitu bahwa sumber kebenaran bagi Ahlu Sunnah wal Jama’ah atau Salafiyun adalah al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para salafush-shalih. Jadi ukuran kebenaran bukan individu manusia sepeninggal para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Itu sangat jelas berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang antara lain:

“Maka wajib bagi kalian berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ur-Rasyidun yang mendapat petunjuk. Peganglah dengan kuat Sunnah itu dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian. Dan janganlah sekali-kali mengada-adakan perkara-perkara baru dalam agama, sebab setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap yang bid’ah adalah sesat”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, III/118-119 no. 4607)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Ketahuilah! Sesungguhnya golongan sebelum kamu dari kalangan Ahlu Kitab terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sesungguhnya golongan umat Islam ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua golongan di dalam neraka dan satu golongan di dalam sorga, yaitu al Jama’ah.” (HR. Abu Dawud. Syaikh al Albani mengatakan: “Hadits hasan” ,III/115 no. 4597

Pengertian al Jama’ah pada hadits di atas ialah, sesuatu yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya ada di atasnya. Dengan kata lain, al Jama’ah ialah, golongan yang berpijak pada Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnah para sahabatnya. Seperti dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits berikut:

“Akan terpecah umatku menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di dalam neraka kecuali satu golongan saja”. Mereka (para sahabat) bertanya: “Siapakah golongan itu ya Rasulallah?” Beliau menjawab: “Yaitu yang berada pada apa yang aku dan sahabatku ada di atasnya”. (Dikeluarkan oleh Tirmidzi. Syaikh al Albani mengatakan: “Hadits hasan”, III/54-54 no. 2641)

Hadits-hadits di atas menunjukkan, bahwa kebenaran terletak pada ittiba’ Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Sunnah Khulafa’ur-Rasyidun dan Sunnah para sahabatnya. Sunnah para Khulafa’ur-Rasyidun dan Sunnah para sahabat yang lain, hakikatnya merupakan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Oleh sebab itulah Imam Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani rahimahullah (164 H – 241 H.), berkaitan dengan prinsip Sunnah, mengatakan: “Prinsip Sunnah menurut kami (kalangan Ulama Ahlu Sunnah, di antaranya) ialah berpegang dengan apa yang ditempuh oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti jejak mereka”[Ushulus Sunnah, Imam Ahmad]

Jadi, tolok ukur kebenaran bukan terletak pada perkataan atau perbuatan Fulan dan Fulan. Tetapi kebenaran, yaitu apa yang sesuai dengan al Qur’an dan Sunnah yang difahami dengan pemahaman para salafush-shalih Radhiyallahu ‘anhum.

Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Kebenaran tidak diukur dengan orang, tetapi oranglah yang harus ditimbang dengan kebenaran. Inilah timbangan yang benar. Meskipun kedudukan dan derajat seseorang dapat berpengaruh bagi diterimanya perkataannya, sebagaimana diterimanya berita orang adil atau diabaikannya berita orang fasik, akan tetapi itu bukan tolok ukur kebenaran sama sekali. Sebab manusia adalah orang yang bisa luput dari kesempurnaan ilmu, dan dari kekuatan pemahaman, sesuai dengan seberapa besar kadar ilmu dan pemahaman yang terluput darinya. Bisa jadi seseorang merupakan orang yang kuat dalam beragama dan memiliki akhlak, namun mungkin ia adalah orang yang kurang ilmu dan lemah pemahamannya, sehingga terlepaslah kebenaran darinya sebesar kekurangannya dalam ilmu dan kelemahannya dalam pemahaman. Atau ia merupakan seseorang yang tumbuh pada suatu cara beragama tertentu atau madzhab tertentu, dimana ia hampir tidak pernah kenal cara lainnya, sehingga ia menyangka bahwa kebenaran hanyalah yang ada pada dirinya. Atau kemungkinan-kemungkinan lainnya”.[Al-Qawa’id Al-Mutsla hal. 85]

Sebagai kesimpulan, manhaj Salaf bukanlah suatu “harakah”, bukan pula manhaj hizbi (fanatisme golongan), dan bukan pula manhaj yang mengajarkan taklid, kekerasan dan kekasaran. Tetapi manhaj Salaf adalah ajaran Islam sesungguhnya yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan difahami serta dijalankan oleh para salafush-shalih -radhiyalahu ‘anhum- yang ditokohi oleh para sahabat, kemudian oleh para tabi’in dan selanjutnya tabi’ut Tabi’in. Kemudian diteruskan oleh para Ulama Ahlu Sunnah beserta pengikut-pengikutnya hingga hari Kiamat. Nas’alullaha at-Taufiq

Diringkas oleh Didit Fitriawan dari tulisan Al Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, “SALAFIYYAH BUKAN MANHAJ HIZBIY” yang termaktub dalam majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun X/1428H/2007


Actions

Information

8 responses

4 02 2009
admin

syukron akhi…makin berbobot saja isi blognya..jazakallahu khoiron..

semoga tetap istiqomah

4 02 2009
fuad

bagus sekali ustadz tulisannya. saya ikut baca yah!
dan satu hal ustadz, setahu saya Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin rahimahullah beraliran wahabi. mengikut pada Muahmmad bin ‘Abdul Wahab rahimahulah.

bukankah itu sudah bisa dikatakan bermanhaj (mengikuti cara orang) juga.

syukron, tulisan yg menarik.

Didit Fitriawan berkata…
Barakallahu fiykum…

4 02 2009
rismaka

Barakallahufiikum akhi….
Iya… saya juga beraliran “wahabi”… dan saya bangga menjadi “wahabi” sejati.
———————————————
Mengutip tulisan aL uStadZ Abu Faris:
“Berapa banyak orang yang mengklaim kebebasan dari fanatisme dan taqlid, namun sejatinya ia hanyalah berpindah dari suatu fanatisme dan taqlid kepada bentuk fanatisme dan taqlid yang lain yang boleh jadi tidak kurang atau bahkan lebih parah dari sebelumnya.”

“Sungguh mengherankan apabila ada orang yang bersikap keras, intoleran, memaksakan pendapat dan mudah memvonis orang lain dalam perkara yang memungkinkan perbedaan pendapat di dalamnya (khilafiyyah ijtihadiyyah), padahal ia telah membaca berbagai literatur fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadits, dll, yang di dalamnya memuat sekian banyak perbedaan pendapat di kalangan ulama. Jika yang bersangkutan belum membaca/menelaah literatur tersebut, maka sejatinya ia sama sekali tidak berkompeten untuk mengeluarkan pendapat, apalagi memvonis orang lain. Namun, apabila ia telah membaca literatur-literatur tersebut akan tetapi masih juga bersikap keras dan intoleran, maka ini adalah musibah… inna li’Llahi wa inna ilaihi raji`un. Penting untuk ditambahkan bahwa yang dimaksud dengan toleransi adalah menghargai perbedaan, dan bukan menyamakan perbedaan”
[Abu Faris]
———————————————
Download ebook: http://rismaka.net/2009/02/ebook-janganlah-mengafirkan-saudaramu.html

6 02 2009
dim

Taukah apa yang Aku rindukan teman?
Yaitu setiap muslim yang bermanhaj salaf (Bukan pengakuan semata) di Indonesia ini berada dalam satu barisan.
Sebaik-baiknya barisan.
Saling menasehati dalam kebaikan dan kebenaran.
Meninggalkan sebab-sebab munculnya fitnah (Yang telah jelas akibatnya).
Mengikuti kepada condongnya al-Haq.
Menjelaskan perkara yang benar dan perkara yang menyimpang.
Tidak mendiamkan penyimpangan dan menyerukan persatuan diatasnya.
Tetapi menjelaskan dan mengingatkan akan kerusakannya.
Sehingga ummat menjadi tahu, menjadi berilmu.
:)

9 02 2009
senyumkusenyummu

manhaj salaf itu haq…! percaya dan ikutilah dia..

11 02 2009
hik_mah

semoga Allah senantiasa meneguhkan kita di atas manhaj yang haq ini…

barakallahufiek ya akhi…

11 02 2009
Dwi abdul hadi

Ketika pelajaran usai, kami keluar bersama-sama sebagian para pemuda. Kami benar-benar dibuat kagum oleh ilmu dan kerendahan hatinya. Bahkan aku mendengar salah seorang mereka berkata, “Inilah syaikh yang sesungguhnya!”.
kalau tidak salah Syaikh yang yang dimaksud adalah Syaikh Muhammad Nasiruddin al albani rohimahulloh .
Tulisan-tulisannya indah santun dan tidak menggurui , apalagi senandung-senandung syaithan indah sekali dan sangat bermanfaat syakarollohu lifadhilatil akh Abi abdirrozaq ‘ala ma qoddam

Didit Fitriawan berkata…
Barakallahu fiyka ya akhuna fillah. Amin, insya Allah…

14 02 2009
syukur

Assalamu’alaykum. -edited- sy mau nanya. Klo pngertian salaf sy alhamdulillah paham. Lalu apa itu wahabi, betulkah syaikh muhammad bin shalih ‘utsaimin itu wahabi?

Didit Fitriawan berkata…
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuhu.
akhi yang baik, semoga ini bisa membuat kita bersama menjadi faham ya! Buka di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: