Ketika Bunga Tak Bermekar Lagi…

21 01 2009
bunga, jangan layu...semangat!

bunga, jangan layu...ayo semangat!

Kala itu sore menjelang dan menjulang dengan indahnya di langit Surabaya dengan dihiasi tetesan hujan yang menyegarkan taman – taman kota. Mencoba sedikit melepaskan penat dengan istirahat di kamar yang tak cukup terawat. Mendengarkan bait demi bait lantunan alquran Muhammad Thaha al Junayd…

Seakan semua itu menjadi penyerta dan pengiring akan senyuman yang tersurat dari kejadian di pagi harinya. Di mana ada 3 kebahagiaan yang dititipkan Allah ta’ala pada hamba-Nya yang dha’if ini…

  1. Sebuah keinginan untuk dibimbing oleh dosen santun dan penyabar -insya Allah- dalam mengerjakan Tugas Akhir perkuliahan yang telah siap menanti di depan mata. Ternyata dengan begitu mudah Allah berikan untukku dan sahabatku. Semoga dengan ini, Allah berikan jalan yang mudah dalam menyelesaikan semuanya…
  2. Sebuah keinginan untuk mendapatkan nilai yang baik dari mata kuliah yang semester yang lalu diajar oleh beliau sang dosen santun dan penyabar itu. Ternyata Allah-pun buka jalan yang elok untuk mata memandang-nya di SIM akademik kampus. Tertera dalam sebuah kotak berlabel NILAI MAHASISWA PER KELAS, dengan nilai yang membuat hati tenteram dan memunculkan seraut senyum manis dari wajah yang sederhana ini.
  3. Sebuah keinginan untuk membayar hutang – hutang yang telah lama tertunda karena sebuah kebutuhan yang tak terduga. Kini telah tertutupi dengan datangnya beasiswa “kaget” yang datang tanpa diundang dari Fakultas Di Rektorat Kampus kami. Sehingga, hutang – hutang-pun terlunasi tanpa kurang suatu apa…

Subhanallah, walhamdulillahi bi ni’mati tathimmu ash shalihat…

Sebuah kebahagiaan yang untuk sementara belum aku temukan pengganti yang layak atasnya…

Dan aku yakin, kala itu tak ada seorang-pun yang berbahagia melebihi kebahagiaanku…

Meski aku tak tahu, betapa banyak manusia di luar sana yang kini berbahagia di atas nikmat yang Allah berikan untuknya…

Namun…

Tatkala sore telah mereda, matahari berangsur sirna dan burung – burung di langit-pun tak kembali menyanyikan kicaunya…adzan maghrib-pun berkumandang.

Dengan untaian langkah demi langkah, kaki ringkih ini mencoba menyusuri jalan kecil menuju Masjid al Ibrahim di daerah Gebang Lor, Sukolilo – Surabaya, tempat aku biasa berjama’ah dengan kaum muslimin dalam shalatku karena wajibnya atas amalan ini. (HR. Ibnu Majah no. 793, Al Hakim I/245 dan Al Baihaqi III/174)

Masih tersisa raut kebahagian yang tampak di wajahku sesaat setelah shalat dan berbincang dengan teman sejawat.

“Alhamdulillah, akhi. Nilai mata kuliah-ku keluar sebagian dan alhamdulillah baik.” tuturku pada seorang teman ketika perjalanan pulang dari masjid.

“Alhamdulillah, doakan aja nilaiku juga bagus ya, ketar – ketir nih…” sahutnya pendek.

Tak terasa pintu kamar telah aku buka kembali, dan sebendel mushaf kecil aku raih berharap bisa melantunkan sebuah – dua buah Firman Ar Rahman…

Subhanallah…tenteram sekali hati ini.

“Dit. Kamu udah lihat nilai mata kuliah -blablabla-…???”

Datang seorang kawan dengan membawa sebuah berita yang mungkin bagiku itu indah, dan semoga memang indah terlihat dari pertanyaan yang ia ajukan.

“Lho, emang udah keluar ya maz!” tanyaku penuh ingin tahu.

“Udah, alhamdulillah aku dapat bagus! Tadi Fulan yang ngasi’ tahu aku…” katanya.

Seakan tak sabar, penuh harap aku bertanya,” tahu nilaiku ga’ maz!??”

” Waduh ga ngerti, coba aja esok pagi ke kampus tengok bentar!” sahutnya enteng.

Sebuah perasaan deg – deg’an menggelayut di hatiku, berharap akan datang sebuah berita kebaikan yang akan aku kabarkan pada ayah – bunda yang telah menanti di rumah.

Seandainya mereka mendengar anak paling bandel namun tetap jadi kesayangan mereka, mendapatkan nilai yang baik dalam kuliahnya, pasti ada sebuah rasa bangga dan tak kecewa untuk ke sekian kalinya…

Mulailah jemari ini mengetik se-karakter tulisan dari sebuah handphone. Berharap mendapatkan kejelasan dari teman tentang nilai ujian. “Assalamu’alaikum. Fulan, katanya nilai mata kuliah -blablabla- udah keluar ya? Tahu ga, nilaiku dapat apa?” begitulah kiranya SMS yang aku kirimkan pada salah seorang temanku.

Tak butuh waktu lama untuk menjawab SMS yang ringan itu. Sebuah dering pendek handphoneku berbunyi, hanya dengan satu kali tekan kemudian muncullah sebuah tulisan, “Wa’alaikumsalam, kamu dapat … Dit! Tapi ga tahu sih, aku lupa. Coba besok liat lagi.”

Deg…! Sontak, seperti ombak…hatiku kaget bukan kepalang.

“Bagaimana mungkin…???”

Masya Allah, sebuah HAL BIASA yang pernah aku terima di semester lalu, kini seakan menjadi PETAKA di semester ini. Begitu-pun sebaliknya, sebuah hal yang tidak istimewa saat nilai kuliahku A, kini seakan menjadi ANUGERAH YANG TERINDAH.

Ada apakah semua ini…???

Mengapa aku menjadi seperti ini…???

Gerangan apa yang membuat kesedihan ini…???

BERSAMBUNG KE “Ketika Bunga Tak Bermekar Lagi 2” Insya Allah.


Actions

Information




%d bloggers like this: