Di Balik Tirai Sebuah Canda…

4 01 2009
^_^

senyum ^_^

“Eh tahu gak, setiap jumat di rumah sakit itu selalu ada yang mati loh…Dan penyebabnya misterius…Dan dokterpun ga ada yang tahu…” celetuk Fulan pada teman – temannya.

“Eh, masa? Emang kamu tahu penyebabnya?” tanya temannya.

“Halah…ternyata tiap jumat itu ada si cleaning service yang dengan entengnya nyabutin stop kontak alat nafas pasien dan menggantinya dengan vacuum cleaner, mulai deh…” tukas Fulan yang serentak diringi gelak tawa teman – temannya…

—+++—+++—

Ya…itulah bercanda. Canda memang dapat menghibur, mencairkan suasana, menghilangkan ketegangan, menenangkan keresahan dan meredakan amarah. Bahkan, tak jarang di dalam setiap canda yang kita berikan akan tercermin rasa persaudaraan dan persahabatan yang seakan penuh keakraban…

Di satu sisi, canda yang dapat membuat orang lain senang dapat disebut sebagai kebaikan karena Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam mengisyaratkan dalam haditsnya bahwasanya senyum yang dengannya orang menjadi senang adalah suatu kebaikan. Beliau bersabda,

“Senyummu untuk saudaramu, adalah shadaqah bagimu…” (HR. At Tirmidzi, …)

Namun seperti apakah canda yang dicontohkan oleh panutan kita yang mulia, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam…??? Apakah seperti canda kita…???

Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan Abu Umair, adik dari sahabat Anas ibnu Malik-radliyallahu’anhu- ketika ia masih anak-anak. Beliau kemudian mencandainya tentang anak burung yang ia pelihara…

“Abu Umair, apa yang dilakukan anak burungmu?” Demikian beliau memberikan canda dan senyuman kepada Abu Umair…

Lihatlah apa yang dikutip ahli hadits Imam Abu Dawud. Beliau meriwayatkan, ada seseorang mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Ya Rasulullah, sertakan-lah saya,” pintanya, “Kami akan membawamu (naik) di atas anak unta,” jawab Nabi, “Apa yang dapat aku lakukan dengan anak unta?”, tanyanya kebingungan (karena tak banyak yang bias dilakukan oleh anak unta). Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bukankah unta dewasa itu adalah anak unta juga.” (HR. At Tirmidzi).

Subhanallah…canda segar ini-lah yang akan menimbulkan senyuman – senyuman manis dari orang – orang di sekitar kita serta menjadikan pergaulan serasa hangat dan penuh keindahan…

^_^

^_^

Bahkan ada diantara sahabat yang mulia ada yang sangat suka dengan bercanda sehingga Imam Ibnu ‘Abdil Barr mensifati sahabat dalam bukunya Al Isti’ab  4/1526 sebagai seorang pecanda…Beliau adalah Nu’aiman Ibnu ‘Amr bin Rifa’ah. Meskipun disifati sebagai seorang pecanda, namun keimanan para sahabat tetap-lah kokoh dan setinggi gunung, demikian-lah yang dikatakan oleh Abdullah ibnu ‘Umar -radliyallahu’anhuma-

  1. Tidak Menjadikan Tuntunan Agama Sebagai bahan Canda.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
    Artinya “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersendau gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. 9:65-66)
    Termasuk di dalamnya menjadikan sunnah Nabi, seperti: Memelihara lihyah, mengangkat celana di atas mata kaki bagi lelaki. Jika ajaran agama dijadikan gurauan sekecil apa pun, dapat menyebabkan kekufuran.
    Abdullah Ibnu Abbas -radliyallahu’anhuma- pernah berkata, “Barang siapa melakukan dosa lalu ia tertawa (merasa senang), maka ia akan masuk neraka di dalam keadaan menangis.”
  2. Bukan Merupakan Cacian dan Cemoohan.
    Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. 49:11)Disamping lisan, cacian dapat dilakukan dengan gerakan isyarat atau mata. Nabi yang mulia-pun melarang untuk mencaci,
    “Jangan engkau bergembira dengan (cela) saudaramu, bisa saja itu akan menjadi sebab Allah untuk mengasihinya, dan mencobamu (dengan semisalnya).” (HR. At-Tirmidzi)

    Ketahuilah wahai teman…Kehormatan harga diri di dalam  Islam sama dengan kehormatan darah dan harta. Kesadaran orang untuk tidak mencuri harta atau mencelakai orang lain, belumlah cukup tanpa adanya kesadaran untuk menjaga kehormatan orang. Nabi bersabda, “Setiap muslim dengan muslim lain diharamkan darah, harta dan harga dirinya.” (HR. Muslim)

  3. Bukan Merupakan Ghibah.
    Orang yang sering bercanda kemungkinan berat akan terjerumus ke dalam ghibah. Ia mengira mungkin ini hanya sekedar canda, padahal Nabi mendefinisikan ghibah dengan, “Menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang tidak disenanginya.” sebagaimana tertera di dalam hadits riwayat Imam Muslim.
  4. Tidak Menjadikan Canda Sebagai Kebiasaan.
    Pribadi seorang muslim hendaknya serius dan bersahaja, sedang bercanda hanyalah sekedar sela saja,untuk rehat dari kepenatan. Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa menjadikan humor sebagai profesi adalah sebuah kesalahan besar (dlm buku Ihya ‘Ulumuddin 3/129)
  1. Isi Canda Adalah Benar, Bukan Dusta dan Tidak Dibuat-Buat.
    Nabi bersabda, “Celakalah orang yang berbicara lalu mengarang cerita dusta agar orang lain tertawa, celakalah!” (HR. Abu Dawud)Naudzubillahi min dzaliik…
  2. Mengondisikan Canda Dengan Tempat, Suasana dan Orang yang Dicandai.
    Ketahuilah teman…Bercanda dengan orang yang dihormati semisal ulama bisa dianggap kurang sopan. Bercanda dengan orang awam dan kebanyakan orang bisa mengurangi kewibawaan. Demikian pula, bercanda dengan orang yang belum dikenal bisa dipersepsikan sebagai penghinaan.

Kemudian…simaklah pesan Imam An-Nawawi tentang bercanda, bahwasannya bercanda yang dilarang adalah canda yang berlebihan dan dijadikan sebagai kebiasaan yang dapat menyebabkan orang – orang banyak tertawa. Sedangkan banyak tertawa dapat memadamkan cahaya hati. Kadangkala bercanda (yang demikian), akan berakhir dengan cacian, cemoohan, menanamkan dendam dan memudarnya kewibawaan. Canda yang dilakukan Nabi adalah bercanda yang bersih dari sifat-sifat di atas (al Adzkar/468 )

Dimulai sejak huruf ini tertulis, kami pribadi berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dilindungi dari canda dengan sifat – sifat yang bisa merendahkan…dan tidak memuliakan…

Wallahu a’lam

Ditulis Didit Fitriawan di sebuah senja yang indah Kota Sidoarjo, Ahad 7 Muharram 1430 H


Actions

Information

12 responses

4 01 2009
mbak solehah

syukran dit ats ilmu nya. sungguh bmanfaat :)

4 01 2009
fachri

jazakumullah khoir atas nasehatnya..

5 01 2009
abu ammar

gambarnya tolong diganti dong, sepertinya itu senyum seorang wanita
saddudz dzarî’ah akhi.

Didit Fitriawan berkata…
Jazakallahu khairan akhi…’afwan ya!

5 01 2009
devi wulandari

Betul sekali. Aemoga lebih bisa mengendalikan diri dalam bercanda ^_^

5 01 2009
ahsinmuslim

dan kata orang canda itu bisa membuat orang tampak awet muda.

” Isi Canda Adalah Benar, Bukan Dusta dan Tidak Dibuat-Buat.”
ini yang sering kali saya lupakan. ketika ada saudara yang bertanya walau sekedar candaan, entah kenapa sering kali yang muncul dari lisan ini adalah jawaban yang tidak benar (dusta).

terima kasih mas Didit, telah mengingatkan insan khilaf ini.
maaf sudah lama tidak bersilaturahmi ke taman hikmah ini.
salam persaudaraan

Didit Fitriawan berkata…
Iya mas ahsin muslim…barakallahu fiyka.

6 01 2009
maramis setiawan

oi….fotone akhwat kuwi, ganti-ganti….

Didit Fitriawan berkata…
Iyo Jeh… ^_^ ‘afwan!

6 01 2009
awisawisan

aduh…

6 01 2009
Aris D. Wicaksono

:D :D :D :D :D :D

8 01 2009
Muliadi

ya klo bercanda terus kpn seriusnya
lgian klo kbnyakan senyum nanti dikira orang gila


Didit Fitriawan berkata…

Hai tetanggaku yang baik, dibaca dulu thole. Baru ngasi comment…
^_^
mana Jasmadi???

9 01 2009
hanifah

ehm…artikel yang sangat bagus.
janjinya kemarin hari jumat lo….
jangan sampai lupa, hari ini hari jumat.

10 01 2009
l5155st™

eh janji-kah saya…???

ya udah, saya jawab, insya Allah ya

12 01 2009
rismaka

hehehe
No comment deh, udah terwakili sama komen2 di atas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: