Tetangga oh Tetangga…

5 09 2008

Embun ramadhan

Ramadhan yang mulia kini telah hadir di depan mata. Banyak manusia – manusia yang berbuat baik pada sesama. Menyantuni anak yatim, berinfaq untuk masjid dan member makan orang lain yang berpuasa. Akan tetapi terhadap seorang yang dia dekat atasnya, acapkali manusia – manusia tersebut melupakan hak – hak-nya sehingga seringkali terjadi sesuatu yang tidak indah dalam pergaulan setiap harinya. Siapakah gerangan yang harus kita ketahui hak – haknya dan kita tunaikan kebaikan padanya…???

Allah Tabaroka wata’ala berfirman :

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada orang tuamu, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba shayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (An Nisa’ : 36)

Ya, dialah tetangga. Banyak sekali akhir – akhir ini kita jumpai manusia yang acapkali berbuat jahat terhadap tetangganya. Padahal seandainya dia tahu tentang besarnya hak tetangga, maka haram bagi-nya mnyakiti tetangganya. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Syuraih Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Beliau ditanya : Siapa Wahai Rasulullah ?” beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab : “Yaitu yang tetangganya tidak aman dari gangguannya” (HR Al Bukhari, Fathul Bari : 10/443)

Sebagai petunjuk Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menjadikan pujian atau hinaan tetangga sebagai ukuran kebaikan dan keburukan seseorang. Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu meriwayatkan:

“Seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah, bagaimana untuk mengetahui jika aku ini seseorang yang baik atau jahat? ” Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Jika engkau mendengar tetangga-tetanggamu mengatakan engkau baik, berarti engkau baik, dan jika engkau mendengar mereka mengatakan engkau jahat maka berarti engkau jahat” (HR Ahmad : 1/402, Dalam Shahihul Jami : 623)

Gangguan kepada tetangga bentuknya bermacam-macam. Di antaranya melarangnya memasang tiang pada dinding milik bersama, meninggikan bangunan tanpa izin hingga menghalangi sinar matahari atau menutup ventilasi udara rumah tetangga, membuka jendela rumah untuk melongok kerumah tetangga sehingga melihat aurat mereka, mengganggu dengan suara gaduh seperti ketok-ketok atau teriak-teriak pada waktu tidur dan istirahat, memukul anak tetangga, membuang sampah di depan pintu rumahnya dan sebagainya.

Syariat Islam benar-benar memuliakan kedudukan tetangga. Sehingga orang yang melakukan pelanggaran hak dan kejahatan kepada tetangga dihukum secara berlipat. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Seorang laki-laki berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan daripada berzina dengan istri seorang tetangganya, seorang laki-laki mencuri dari sepuluh rumah lebih ringan baginya daripada mencuri dari rumah tetangganya” (HR Al Bukhari, Al Adabul Mufrad: no : 103, As sisilah Shahihah: 65)

Betapapun berat ancamannya, tapi banyak orang tetap tak peduli. Sebagian penghianat malah ada yang mengambil kesempatan perginya tetangga pada malam hari, misalnya pada saat ia mendapat giliran tugas malam. Penghianat itu lalu masuk mengendap rumah tetangganya untuk melakukan perbuatan terkutuk. Celakalah orang semacam itu, dan kelak baginya adzab yang pedih di neraka. Na’udzubillahi min dzaliik…

Semoga di bulan Ramadhan yang mulia ini, kita mulai belajar untuk memuliakan dan berbuat baik kepada tetangga, menunaikan hak – hak yang terabaikan, dan belajar menjadi seorang manusia mulia di hati si tetangga.

Wallahua’lam

Nantikan seri tulisan Setetes Embun Ramadhan dari tinta ulama’ Insya Allah


Actions

Information

6 responses

5 09 2008
ghaniarasyid™

Akhi, sekali-kali imagenya mbok ya yang berhubungan dengan postingan…
Harusnya kalo “tetangga”, fotonya rumah atau kos-kosan gitu :( .
Ya, tetangga bisa menjadi saudara bagi kita :D

Didit Fitriawan berkata…
Insya Allah, akh!

5 09 2008
akaldanhati

smoga,
amiin

6 09 2008
ahsinmuslim

tetangga, sebagaimana seorang sahabat adalah cermin diri kita. mereka tahu, baik-buruknya diri kita. sehingga semestinyalah kita muliakan tetangga kita, karena kepada merekalah kita butuh pertolongan.
semoga Allah menjalin erat tali silaturahmi dan ukhuwah kita dengan para tetangga kita. Amin

6 09 2008
mahabbahtedja

tetangga itu berapa rumah dari rumah kita?
40 rumah samping kanan-kiri bukan?
ada dalillnya bukan….

Didit Fitriawan berkata…
Wallahua’lam, saya belum tahu akhi tentang hadits tersebut.

7 09 2008
achoey sang khilaf

moga kita bisa menjadi tetangga yg baik sobat )

8 09 2008
nAsruni

Assalamu’alaykum wahai tetanggaku :-D




%d bloggers like this: