Percantik Tarawihmu dengan Thuma’ninah…!

1 09 2008
Setetes embun ramadhan...

Setetes embun ramadhan...

Di antara yang termasuk syiar terbesar yang ada di Bulan mulia ini adalah shalat sunnah yang dilaksanakan secara berjamaah setelah shalat isya’. Tarawih, istilah inilah yang sangat familier dengan kita. Tiap selesai shalat isya di Bulan Ramadhan, kita selalu berbanggaa untuk menyambutnya…

Namun, seringkali kita menjadi orang terjahat dan sejelek – jelek pencuri di tengah syahdu tarawih orang – orang yang shalih. Banyak di antara kita melalaikan perkara ini. Mengabaikan dan tak pernah menggubris tentangnya…Na’udzubillah min dzalik!

Di antara kejahatan pencurian terbesar adalah pencurian dalam shalat tarawih dan sebagian shalat wajib dikarenakan tiada thuma’ninahnya kaum muslimin dalam melaksanakan shalat ini. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda…

“Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya.” Mereka bertanya, ” Bagaimana ia mencuri dalam shalatnya?” Beliau menjawab,” (Ia) tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” [HR. Ahmad, 5 / 310 dan dalam Shahihul jami’ hadits no : 997]

Thuma’ninah adalah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan. Para Ulama memberi batasan minimal dengan lama waktu yang diperlukan ketika membaca tasbih. Lihat buku fiqhus sunnah, Sayyid Sabiq : 1/ 124 (pen)

Meninggalkan  Thuma’ninah pada shalat tarawih, tidak meluruskan dan mendiamkan punggung sesaat ketika ruku’ dan sujud, tidak tegak ketika bangkit dari ruku’ serta ketika duduk antara dua sujud, semuanya merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin. Bahkan hampir bisa dikatakan, tak ada satu masjid pun kecuali di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak thuma’ninah dalam shalatnya.

Thuma’ninah adalah rukun shalat, tanpa melakukannya shalat menjadi tidak sah. Ini sungguh persoalan yang sangat serius. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud ” (HR. Abu Dawud : 1/ 533, dalam buku shahih jami’ hadits No :7224)

Tak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran, pelakunya harus dicegah dan diperingatkan akan ancamannya.

Abu Abdillah Al Asy’ari berkata, “(suatu ketika) Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam shalat bersama shahabatnya kemudian Beliau duduk bersama sekelompok dari mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk dan berdiri menunaikan shalat. Orang itu ruku’ lalu sujud dengan cara mematuk, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam barsabda :

“Apakah kalian menyaksikan orang ini ? Barang siapa meninggal dalam keadaan seperti ini (shalatnya) maka dia meninggal dalam keadaan di luar agama Muhammad. Ia mematuk dalam shalatnya sebagaiman burung gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang shalat dan mematuk dalam sujudnya bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia bisa merasa cukup (kenyang) dengannya.” [HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya : 1/ 332, lihat pula buku Shifatus Shalatin Nabi, Oleh Al Albani hal : 131]

Sujud dengan cara mematuk maksudnya : Sujud dengan cara tidak menempelkan hidung dengan lantai, dengan kata lain, sujud itu tidak sempurna. S

ujud yang sempurna adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu’alaihi wasallam besabda, “Jika seseorang hamba sujud maka ia sujud denga tujuh anggota badan (nya), wajah, dua telapak tangan, dua lutut dan dua telapak kakinya”. [HR Jamaah, kecuali Bukhari, lihat buku Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq : 1/ 124]

Zaid bin wahb berkata ,” Hudzaifah pernah melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, ia lalu berkata,” Kamu belum shalat, seandainya engkau mati (dengan membawa shalat seperti ini) niscaya engkau mati di luar fitrah (Islam )yang sesuai dengan fitrah diciptakannya Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam”

Nash’alullaha salam wal ‘afiyah…Kita memohon pertolongan kepada Allah atas hal – hal seperti ini.

Nantikan seri tulisan Setetes Embun Ramadhan dari Untaian Fatwa para ulama’ Insya Allah.


Actions

Information

9 responses

1 09 2008
vaepink

Makasih dhe udah ngingetin…. :)

1 09 2008
Ghani Arasyid

Tarawih juga dipengaruhi oleh Imam shalatnya…
kadang2 ada Imam yang kayaknya tergesa-gesa sehingga shalat tarawih jadi ndak khusyuk :(

1 09 2008
Ghani Arasyid

test

1 09 2008
bashiroh

Barakallahu Fiyka… teruskan akhi.

Dakwah terhadap sunnah tarawih yang thuma’ninah memang sangat diperlukan…


Wafiykum barakallahu akhuna…

2 09 2008
achoey sang khilaf

betul sobat

met jalani indahnya bulan suci
mohon maaf lahir dan bathin

4 09 2008
dondi jalil

Alhamdulillah,..
Kajian ttg hal di atas menyejukkan,..!
Keep on

4 09 2008
mahfuzhoh

Nah…sayangnya disini tuh rata2 ga thuma’ninah. Semuanya uber setoran :(

Didit Fitriawan berkata…
Tidak papa ukhti, coba nyari yang lebih sesuai sunnah.

5 09 2008
Malu « Belajar Hidup

[…] sahabat yang disuruh mengulang shalatnya karena tidak thuma’ninah ketika shalat. Maka mari percantik shalat kita dengan thuma’ninah. […]

5 09 2008
awisawisan

assalaamu’alaykum
saya pengen nempel artikel tuma’ninah di mushola deh.. di depan sutrah2 yang ada…
nda tenang klo sholat buru2…


Didit Fitriawan berkata…

Wa’alaikumsalam warahmatullah.
Silahkan mbak Awis! Barakallahu Fiyki.




%d bloggers like this: