Ramadhan Nan Indah bersama Pemerintah

28 08 2008
Setetes embun ramadhan...

Setetes embun ramadhan...

Teman – teman yang baik, sungguh akan terasa hambar ketika kami tidak menuliskan perkara BESAR dan sangat penting ini. Di mana kita akan dapati persatuan ketika kita awali ramadhan dengannya… Akan kita dapati syi’ar yang akbar ketika kita mulai ramadhan bersamanya…Serta akan kita dapati, ukhuwwah yang indah jika kita melangkah bersamanya di awal puasa… Apakah gerangan perkara terbesar yang kini mulai pudar…??? Apakah gerangan perkara genting yang kini mulai dianggap tak penting…??? Perkara itu adalah…

MENGAWALI PUASA & HARI RAYA BERSAMA PENGUASA/PEMERINTAH

Ya, inilah perkara terbesar yang akhir – akhir ini mulai pudar. Dipudarkan oleh keegoisan partai, organisasi, jamaah dan kelompok – kelompok dalam tubuh umat islam sendiri. Sungguh sangat disayangkan apa yang telah kita lakukan ini. Seakan – akan kita dan masing – masing individu maupun jama’ah memiliki wewenang dalam menentukan awal ramadhan dan hari raya sehingga berulang kali kita mengalami perbedaan awal ramadhan serta hari raya. Kita lupa…!

Kita lupa…bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam. Tiap detiknya diliputi suasana ibadah, shaum, shalat tarawih, bacaan Al-Qur`an, dan sebagainya. Sebuah fenomena yang tak kan pernah kita dapati di bulan-bulan selainnya. Pantas bila kedatangannya menjadi dambaan, dan kepergiannya meninggalkan kesan yang mendalam. Tak kalah istimewanya, bulan suci Ramadhan juga sebagai salah satu syi’ar kebersamaan umat Islam. Serentak kaum muslimin di dunia melakukan puasa Ramadhan dengan berbagai macam bentuk ketaatan semenjak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Tatkala malam, kumandang tarawih-pun menggema di mana masjid berada. Namun kini, kebersamaan itu sirna, KETIKA KITA TIDAK MENGAWALI SEMUANYA BERSAMA PEMERINTAH.

Dengarlah titah Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau bersabda…

“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar -rahimahullah- dalam kitab beliau bahwa terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmah dari mentaati penguasa adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan pasti terdapat kerusakan. (dikutip dari buku Fathul Bari, 13/hal.120)

Dan sudah barang tentu, penentuan awal puasa ramadhan bukanlah merupakan bentuk kemaksiatan. Bahkan ini merupakan syiar yang akbar bagi umat islam. Disamping itu, realita yang terjadi pastilah menyiratkan bahwa kerukunan danpersatuan akan terlihat ketika awal ramadhan ditentukan bersama pemerintah. Tampak umat islam itu sebagai umat yang kokoh, penuh kebersamaan serta ramai/semarak akan keindahan. Namun sekarang…??? Entahlah…

Teman – teman yang baik…telah masyhur di telinga kita bahwa ketika kita menemui perbedaan pendapat, maka kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah-lah jalan keluarnya. Dan tatkala kita jumpai perbedaan di kalangan umat islam tentang penentuan awal ramadhan, maka kita-pun kendaknya mengembalikan kepada alquran dan as sunnah. Sebagaimana difirmankan oleh Ar Rahaman dalam QS An Nisa’:59

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan Ulil Amri di antara kalian.”

Tidakkah kita mendengar tutur lembut kata dari Imam an Nawawi -rahimahullah- ketika beliau menafsirkan ayat di atas,” Yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan untuk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin umat. Inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang dari kalangan ahli tafsir dan fiqih serta yang lainnya.”(Syarh Shahih Muslim, juz 12, hal. 222)

Kemudian dijelaskan oleh Nabi melalui sabda beliau…

“Akan ada sepeninggalku nanti para imam/penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman, 3/1476, no. 1847)

Tak cukup hanya itu, Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi seakan tak turut diam atas hal ini. Beliau berkata: Adapun kewajiban menaati mereka (penguasa) tetaplah berlaku walaupun mereka berbuat jahat. Karena tidak menaati mereka dalam hal yang ma’ruf akan mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih besar dari apa yang ada selama ini. Dan di dalam kesabaran terhadap kejahatan mereka itu terdapat ampunan dari dosa-dosa serta (mendatangkan) pahala yang berlipat.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 368)

Nah…dari celah manakah kita akan melawan pemerintah…??? Daari jalan manakah kita akan mengabaikan mereka…??? Sadarlah wahai teman…

Dan sungguh telah sampai di hadirat kita bahwa Sang Maha Kuasa Allah ‘azza  wa jalla memerintahkan hamba-Nya untuk selalu berjama’ah dan tidak saling berpecah. Allah berfirman di dalam alquran,

“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Apakah ada perintah yang lebih jelas melebihi jelasnya ayat ini. Apalagi ketika Imam al Qurthubi turut menjelaskan dalam tafsir beliau, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al-Qur`an) dan Sunnah Nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Sebagaimana Dia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah baik secara keyakinan atau pun amalan…” (Tafsir Al-Qurthubi, 4/105) maka,dengan ini semoga kita difahamkan Allah ‘Azza wa jalla atanya…

Teman – teman yang baik, berikut akan kami kutipkan fatwa ulama’ untuk menunjang pemahaman kita tentang WAJIBNYA TAAT KEPADA PEMERINTAH UNTUK MENGAWALI PUASA. Adalah al Lajnah ad Da’imah lil Buhut’s al ‘ilmiyyah wal ‘Ifta member fatwa…

“…Dan tidak mengapa bagi penduduk negeri manapun, jika tidak melihat hilal (bulan tsabit) di tempat tinggalnya pada malam ke-30, untuk mengambil hasil ru`yatul hilal dari tempat lain di negerinya. Jika umat Islam di negeri tersebut berbeda pendapat dalam hal penentuannya, maka yang harus diikuti adalah keputusan penguasa di negeri tersebut bila ia seorang muslim, karena (dengan mengikuti) keputusannya akan sirnalah perbedaan pendapat itu. Dan jika si penguasa bukan seorang muslim, maka hendaknya mengikuti keputusan majelis/departemen pusat yang membidangi urusan umat Islam di negeri tersebut. Hal ini semata-mata untuk menjaga kebersamaan umat Islam dalam menjalankan shaum Ramadhan dan shalat Id di negeri mereka. Wabillahit taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wasallam.” (Fatawa ar Ramadhan, no.17)

Teman – teman yang detik ini tatapan matanya tertuju pada tulisan di atas, maka merupakan suatu bentuk kebaikan keislaman ketika kita mengawali ramadhan dan lebaran bersama penguasa/pemerintah. Semoga kita dimudahkan Allah Ta’ala dalam menjalankannya…

Ditulis di Surabaya, 27 Agustus 2008, pkl 14.05 WIB


Actions

Information

2 responses

29 08 2008
mahfuzhoh

Waduh…koq nyambung2 ke SoMu ya……???

29 08 2008
ghaniarasyid™

jadi ndak bisa fokus, akhi…
:(




%d bloggers like this: