Salah Kaprah tentang Puasa…(Review Kajian)

28 08 2008
Setetes embun ramadhan...

Embun ramadhan...

Dari Ruang Utama masjid kampus Manarul ‘Ilmi ITS Surabaya, Rabu petang pukul 15.30 WIB, telah berkumandang indah suara kajian dan nasehat yang dipetikkan oleh al ustadz ‘Abdurrahman Thayyib, Lc. Seorang alumni dari Universitas Islam al Madinah yang berada di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menuturkan kepada kami para mahasiswa, bahwa dalam bulan Ramadhan yang mulia ini…sering terjadi kesalahan – kesalahan anggapan yang menyebar luas di masyarakat. Namun sangat disayangkan, apa yang mereka yakini tidaklah seperti apa yang diajarkan panutan kita Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak masyarakat menganggap hal – hal berikut termasuk pembatal puasa, namun sesungguhnya tidaklah sama sekali hal berikut ini membatalkannya. Apa saja kesalah-kaprahan masyarakat kita…???

1. Melakukan pembatal puasa tanpa sengaja.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah setelah menjelaskan tentang pembatal-pembatal puasa, berkata: “Dan pembatal-pembatal ini akan merusak puasa, namun tidak merusaknya kecuali memenuhi tiga syarat: mengetahui hukumnya, ingat (tidak dalam keadaan lupa) dan bermaksud melakukannya (bukan karena terpaksa).” Kemudian beliau rahimahullah membawakan beberapa dalil, di antaranya hadits yang menjelaskan bahwa Allah k telah mengabulkan doa yang tersebut dalam firman-Nya:

“Ya Allah janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kalau kami salah (karena tidak tahu).”
(Hadits yang menjelaskan hal tersebut ada di Shahih Muslim).
Begitu pula ayat ke-106 di dalam surat An-Nahl yang menjelaskan tidak berlakunya hukum kekafiran terhadap orang yang melakukan kekafiran karena dipaksa. Maka hal ini tentu lebih berlaku pada permasalahan yang berhubungan dengan pembatal-pembatal puasa. (Fatawa Ramadhan, 2/426-428)

Dan yang dimaksud oleh Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah adalah apabila orang tersebut benar-benar tidak tahu dan bukan orang yang tidak mau tahu, wallahu a’lam. Sehingga orang yang merasa dirinya teledor atau lalai karena tidak mau bertanya, tentu yang lebih selamat baginya adalah mengganti puasanya atau ditambah dengan membayar kaffarah bagi yang terkena kewajiban tersebut. (Lihat fatwa Asy-Syaikh Ibnu Baz t di dalam Fatawa Ramadhan, 2/435) (Al-Baqarah: 286)


2. Orang yang muntah bukan karena keinginannya (tidak sengaja) tidaklah batal puasanya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam hadits:

“Barang siapa yang muntah karena tidak disengaja, maka tidak ada kewajiban bagi dia untuk mengganti puasanya. Dan barang siapa yang muntah dengan sengaja maka wajib baginya untuk mengganti puasanya.”
(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan yang lainnya, dishahihkan oleh As-Syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Al-Irwa’ no. 930)
Oleh karena itu, orang yang merasa mual ketika dia menjalankan puasa, sebaiknya tidak berusaha memuntahkan apa yang ada dalam perutnya dengan sengaja, karena hal ini akan membatalkan puasanya. Dan jangan pula dia menahan muntahnya karena inipun akan berakibat negatif bagi dirinya. Maka biarkan muntahan itu keluar dengan sendirinya karena hal tersebut tidak membatalkan puasa. (Fatawa Ramadhan, 2/481)

3. Menelan ludah tidaklah membatalkan puasa. Berkata Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah:

“Tidak mengapa untuk menelan ludah dan saya tidak melihat adanya perselisihan ulama dalam hal ini, karena hal ini tidak mungkin untuk dihindari dan akan sangat memberatkan. Adapun dahak maka wajib untuk diludahkan apabila telah berada di rongga mulut dan tidak boleh bagi orang yang berpuasa untuk menelannya karena hal itu memungkinkan untuk dilakukan dan tidak sama dengan ludah.”

4. Keluar darah bukan karena keinginannya seperti luka atau karena keinginannya namun dalam jumlah yang sedikit tidaklah membatalkan puasa.
Berkata Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam beberapa fatwanya:

a. “Keluarnya darah di gigi tidaklah mempengaruhi puasa selama menjaga agar darahnya tidak ditelan…”.

b. “Pengetesan darah tidaklah mengapa bagi orang yang berpuasa yaitu pengambilan darah untuk diperiksa jenis golongan darahnya dan dilakukan karena keinginannya maka tidak apa-apa…”.

c. “Pengambilan darah dalam jumlah yang banyak apabila berakibat dengan akibat yang sama dengan melakukan berbekam, seperti menyebabkan lemahnya badan dan membutuhkan zat makanan, maka hukumnya sama dengan berbekam (yaitu batal puasanya)…” (Fatawa Ramadhan, 2/460-466).

Maka orang yang keluar darahnya akibat luka di giginya baik karena dicabut atau karena terluka giginya tidaklah batal puasanya. Namun dia tidak boleh menelan darah yang keluar itu dengan sengaja. Begitu pula orang yang dikeluarkan sedikit darahnya untuk diperiksa golongan darahnya tidaklah batal puasanya. Kecuali bila darah yang dikeluarkan dalam jumlah yang banyak sehingga membuat badannya lemah, maka hal tersebut membatalkan puasa sebagaimana orang yang berbekam (yaitu mengeluarkan darah dengan cara tertentu dalam rangka pengobatan).

Meskipun terjadi perbedaan pendapat yang cukup kuat dalam masalah ini, namun yang menenangkan tentunya adalah keluar dari perbedaan pendapat. Maka bagi orang yang ingin melakukan donor darah, sebaiknya dilakukan di malam hari, karena pada umumnya darah yang dikeluarkan jumlahnya besar. Kecuali dalam keadaan yang sangat dibutuhkan, maka dia boleh melakukannya di siang hari dan yang lebih hati-hati adalah agar dia mengganti puasanya di luar bulan Ramadhan.

5. Pengobatan yang dilakukan melalui suntik, tidaklah membatalkan puasa, karena obat suntik tidak tergolong makanan atau minuman. Berbeda halnya dengan infus, maka hal itu membatalkan puasa karena dia berfungsi sebagai zat makanan. Begitu pula pengobatan melalui tetes mata atau telinga tidaklah membatalkan puasa kecuali bila dia yakin bahwa obat tersebut mengalir ke kerongkongan. Terdapat perbedaan pendapat apakah mata dan telinga merupakan saluran ke kerongkongan sebagaimana mulut dan hidung, ataukah bukan. Namun wallahu a’lam yang benar adalah bahwa keduanya bukanlah saluran yang akan mengalirkan obat ke kerongkongan. Maka obat yang diteteskan melalui mata atau telinga tidaklah membatalkan puasa. Meskipun bagi yang merasakan masuknya obat ke kerongkongan tidak mengapa baginya untuk mengganti puasanya agar keluar dari perselisihan. (Fatawa Ramadhan, 2/510-511)

6. Mencium dan memeluk istri tidaklah membatalkan puasa apabila tidak sampai keluar air mani meskipun mengakibatkan keluarnya madzi. Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits shahih yang artinya:
“Dahulu Rasulullah n mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa dan memeluk (istrinya) dalam keadaan beliau puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling mampu menahan syahwatnya di antara kalian.” (Lihat takhrijnya dalam kitab Al-Irwa, hadits no. 934)
Akan tetapi bagi orang yang khawatir akan keluarnya mani dan terjatuh pada perbuatan jima’ karena syahwatnya yang kuat, maka yang terbaik baginya adalah menghindari perbuatan tersebut. Karena puasa bukanlah sekedar meninggalkan makan atau minum, tetapi juga meninggalkan syahwatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“(orang yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya dan makannya karena Aku.” (Shahih HR. Muslim)

Dan juga beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tinggalkan hal-hal yang meragukan kepada yang tidak meragukan.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasai, dan At-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.” Dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah di Al-Irwa)

7. Bagi laki-laki yang sedang berpuasa diperbolehkan untuk keluar rumah dengan memakai wewangian.
Namun bila wewangian itu berasal dari suatu asap atau semisalnya, maka tidak boleh untuk menghirupnya atau menghisapnya. Juga diperbolehkan baginya untuk menggosok giginya dengan pasta gigi kalau dibutuhkan. Namun dia harus menjaga agar tidak ada yang tertelan ke dalam tenggorokan, sebagaimana diperbolehkan bagi dirinya untuk berkumur dan memasukkan air ke hidung dengan tidak terlalu kuat agar tidak ada air yang tertelan atau terhisap. Namun seandainya ada yang tertelan atau terhisap dengan tidak sengaja, maka tidak membatalkan puasa. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits:
“Bersungguh-sungguhlah dalam istinsyaq (menghirup air ketika berwudhu) kecuali jika engkau sedang berpuasa (maka tidak perlu bersungguh-sungguh).” (HR. Abu Dawud, 1/132, dan At-Tirmidzi, 3/788, An-Nasai, 1/66, dan dishahihkan oleh As-Syaikh Al-Albani t di Al-Irwa, hadits no. 935)

8. Diperbolehkan bagi orang yang berpuasa untuk menyiram kepala dan badannya dengan air untuk mengurangi rasa panas atau haus.
Bahkan boleh pula untuk berenang di air dengan selalu menjaga agar tidak ada air yang tertelan ke tenggorokan.

9. Mencicipi masakan tidaklah membatalkan puasa, dengan menjaga jangan sampai ada yang masuk ke kerongkongan.
Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu dalam sebuah atsar:

“Tidak apa-apa bagi seseorang untuk mencicipi cuka dan lainnya yang dia akan membelinya.” (Atsar ini dihasankan As-Syaikh Al-Albani rahimahullah di Al-Irwa no. 937)

Inilah yang bias kami rangkumkan dari kajian Islam yang diselenggarakan di Masjid Kampus ITS Surabaya hari Rabu pukul 15.30 WIB. Semoga bermanfaat…
Wallahu a’lam bish-shawab.

Nantikan seri tulisan Setetes Embun Ramadhan dari Untaian Fatwa para ulama’ Insya Allah.


Actions

Information

11 responses

28 08 2008
agungfirmansyah

coba berbagi juga :grin:

Ada hadist yang pernah saya baca (sayangnya saya lupa di buku apa. Apakah Riadush Sholihin, Ihya’ Ulumuddin, atau yang lain). Perihal mencium istri, Nabi SAW mengeluarkan hukum yang berbeda untuk pasangan yang berbeda. Untuk pasangan yang sudah uzur, Rosulullah SAW memberi hukum “boleh”. Tetapi untuk pasangan yang masih muda (lupa, antara masih muda atau baru menikah) beliau menghukumi “tidak boleh”.

Ente tau detail hadistnya? Jzk.

Didit Fitriawan berkata…

Insya Allah ini adalah hadits yang antum maksud…

Kami pernah berada di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, datanglah seorang pemuda seraya berkata, “Ya Rasulullah, bolehkah aku mencium dalam keadaan puasa?” Beliau menjawab, “Tidak”. Datang pula seorang yang sudah tua dan dia berkata, “Ya Rasulullah, bolehkah aku mencium dalam keadaan puasa?”. Beliau menjawab,“Ya” Kemudian sebagian kami memandang kepada teman-temannya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang tua itu (lebih bisa) menahan dirinya.”
(HR. Ahmad 2/185,221)

Hadits tersebut dari jalan Ibnu Lahi’ah dari Yazid bin Abu Hubaib dari Qaushar At-Tufibi. Sanad hadits ini dhaif karena dhaifnya Ibnu Lahi’ah, akan tetapi punya syawahid (pendukung) dalam riwayat Ath Thabrani dalam Al-Kabir 11040 dari jalan Habib bin Abi Tsabit dari Mujahid dari Ibnu Abbas, Habib seorang mudallis dan telah ‘an-‘anah, dengan syahid ini haditsnya menjadi hasan, lihat buku Faqih AL-Mutafaqih 192-193 karena pada buku tersebut terdapat hadits dari jalan-jalan yang lain.)

Wallahua’alam…

28 08 2008
dieyna

terimakasih, ilmunya bermanfaat nih,

29 08 2008
brillie

Wah.. brillie jadi banyak tau. Tapi Brillie suka ga kuat iman kalo ngelihat air dingin, apalagi kalo pas siang” lagi di jalan… :(

29 08 2008
ghaniarasyid™

yang berkesan dari kajian kemarin itu adalah…
ustadz Abdurrahman Thoyyib menyatakan (meskipun ndak terlalu gamblang) bahwa musik & pacaran itu haram hukumnya.

Sungguh sebuah ilmu yang hanya bisa membukakan hati orang-orang yang mau belajar Islam dengan manhaj salaf…

Didit Fitriawan berkata…
Benar akhi…Barakallahu Fiyka…

29 08 2008
ahsinmuslim

selalu…
setiap ku bersua di majlis ini
kudapatkan sesuatu yang menyejukkan dan memberi manfaat
dialah ilmu ukhrawi
“Ya Allah pahamkanlah hamba dengan ilmu agama, tenangkan hati hamba dengan janji surgaMu” .Amin.

29 08 2008
agungfirmansyah

Wah, syukron akh…
Saya harus belajar banyak dari ente bagaimana menghafal dalil naqli.
~sementara ini, hal itu masih jadi kelemahan saya.

29 08 2008
ghaniarasyid™

Afwan, kurang menambahkan kata “masih ada yang…” dan “kadang ada juga yang masih…”

29 08 2008
afwan auliyar

wew… tambahan ilmu neh .. :D

jd bekal buat puasa …

tp keknya yg mencium istri … nggak kan dulu dech (lom da msalahnya.. :D )

30 08 2008
fahrizalmochrin

iNSYALAAH ramadhan memberi makan dalam diri meraih cintaNYA

30 08 2008
fahrizalmochrin

InsyaALLAH Ramadhan memberi Makna ( red) dalam meraih cintaNYA

2 09 2008
mahfuzhoh

Ada lagi pak yang belum disebutkan :
Nangis….Bekam…dan bersiwak…

Jangan ada lagi orang tua yang menakut-nakuti anaknya kalau nangis nanti puasanya batal looh…dsbg

Didit Fitriawan berkata…
Barakallahu Fiyki, semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak kepada anti…




%d bloggers like this: