Saat Kemudahan Menjelang Ramadhan… (Perhatikan Saudaraku!)

19 08 2008
Setetes embun ramadhan...

Setetes embun ramadhan...

Teman – teman yang baik, setelah mengutipkan tulisan Asy Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly dan Asy Syaikh ‘Ali ibnu Hasan al Hallaby tentang apa saja yang harus dipersiapkan menjelang tibanya Ramadhan yang mulia ini, maka kami mencoba mengutipkan penjelasan beliau berdua tentang bekal lain untuk ramadhan kita. Jika Ramadhan menyisahkan kenangan, maka akan lebih terkenang lagi jika kita memahami apa yang telah Allah ta’ala anugerahkan berupa kemudahan saat menghadapi ramadhan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Ketika puasa terasa memberatkan, maka bagi ke-lima golongan insan di bawah ini berhak untuk mengambil kemudahan dari Allah. Siapa saja mereka…??? Mari kita ikuti pembahasan berikut ini, semoga bermanfaat bagi siapa saja yang pandangan matanya sedang tertuju pada tulisan ini.

[1]. Musafir

Banyak hadits shahih membolehkan musafir untuk tidak puasa, kita tidak lupa bahwa rahmat ini disebutkan di tengah-tengah kitab-Nya yang Mulia, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berfirman.

“Artinya : Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu, pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” [Al-Baqarah : 185]

Hamzah bin Amr Al-Aslami bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apakah boleh aku berpuasa dalam safar ?” -dia banyak melakukan safar- maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Berpuasalah jika kamu mau dan berbukalah jika kamu mau” [Hadits Riwayat Bukhari 4/156 dan Muslim 1121]

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Aku pernah melakukan safar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan, orang yang puasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak mencela yang berpuasa” [Hadits Riwayat Bukhari 4/163 dan Muslim 1118]

Hadits-hadits ini menunjukkan bolehnya memilih, tidak menentukan mana yang afdhal, namun mungkin kita (bisa) menyatakan bahwa yang afdah adalah berbuka berdasarkan hadits-hadits yang umum, seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sesungguhnya Allah menyukai didatanginya rukhsah yang diberikan, sebagaimana Dia membenci orang yang melakukan maksiat” [Hadits Riwayat Ahmad 2/108, Ibnu Hibban 2742 dari Ibnu Umar dengan sanadnya yang Shahih]

Dalam riwayat lain disebutkan :

“Artinya : Sebagaimana Allah menyukai diamalkannya perkara-perkara yang diwajibkan” [Hadits Riwayat Ibnu Hibban 364, Al-Bazzar 990, At-Thabrani dalam Al-Kabir 11881 dari Ibnu Abbas dengan sanad yang Shahih.]

Tetapi mungkin hal ini dibatasi bagi orang yang tidak merasa berat dalam mengqadha’ dan menunaikannya, agar rukhshah tersebut tidak melenceng dari maksudnya. Hal ini telah dijelaskan dengan gamblang dalam satu riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu.

“Para sahabat berpendapat barangsiapa yang merasa kuat kemudian puasa (maka) itu baik (baginya), dan barangsiapa yang merasa lemah kemudian berbuka (maka) itu baik (baginya)” [Hadits Riwayat Tirmidzi 713, Al-Baghawi 1763 dari Abu Said, sanadnya Shahih]

Ketahuilah saudaraku seiman -mudah-mudahan Allah membimbingmu ke jalan petunjuk dan ketaqwaan serta memberikan rizki berupa pemahaman agama- sesungguhnya puasa dalam safar, jika memberatkan hamba bukanlah suatu kebajikan sedikitpun, tetapi berbuka lebih utama dan lebih dicintai Allah. Yang mejelaskan masalah ini adalah riwayat dari beberapa orang sahabat, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda.

“Artinya : Bukanlah suatu kebajikan melakukan puasa dalam safar” [Hadits Riwayat Bukhari 4/161 dan Muslim 1110 dari Jabir]

Peringatan :
Sebagian orang ada yang menyangka bahwa pada zaman kita sekarang ini tidak diperbolehkan berbuka, sehingga (berakibat ada yang) mencela orang yang mengambil rukhsah tersebut, atau berpendapat bahwa puasa itu lebih baik karena mudah dan banyaknya sarana transportasi saat ini. Orang-orang seperti ini perlu kita usik ingatan mereka kepada firman Allah Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan nyata :

“Artinya : Dan tidaklah Tuhanmu lupa” [Maryam : 64]

Dan juga firman-Nya.

“Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” [Al-Baqarah : 232]

Dan firman-Nya di tengah ayat tentang rukhshah berbuka dalam safar.

“Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” [Al-Baqarah : 185]

Yakni, kemudahan bagi orang yang safar adalah perkara yang diinginkan, ini termasuk salah satu tujuan syar’iat. Cukup bagimu bahwa Dzat yang mensyari’atkan agama ini adalah pencipta zaman, tempat dan manusia. Dia lebih mengetahui kebutuhan manusia dan apa yang bermanfaat bagi mereka. Allah berfirman.

“Artinya : Apakah Allah Yang Menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan) ; dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui ?” [Al-Mulk : 14]

Aku bawakan masalah ini agar seorang muslim tahu jika Allah dan Rasul-Nya sudah menetapkan suatu perkara, tidak ada pilihan lain bagi manusia, bahkan Allah memuji hamba-hamba-Nya yang mukmin yang tidak mendahulukan perkataan manusia di atas perkataan Allah dan Rasul-Nya.

“Artinya : Kami dengar dan kami taat, (Mereka berdo’a) : “Ampunilah kami yang Tuhan kami dan kepada Engkau-lah tempat kembali” [Al-Baqarah : 285]

[2]. Sakit

Allah membolehkan orang yang sakit untuk berbuka sebagai rahmat dari-Nya, dan kemudahan bagi orang yang sakit tersebut. Sakit yang membolehkan berbuka adalah sakit yang apabila dibawa berpuasa akan menyebabkan suatu madharat atau menjadi semakin parah penyakitnya atau dikhawatirkan terlambat kesembuhannya. Wallahu a’alam

[3]. Haid dan Nifas

Ahlul ilmi telah bersepakat bahwa orang yang haid dan nifas tidak dihalalkan berpuasa, keduanya harus berbuka dan mengqadha, kalaupun keduanya puasa (maka puasanya) tidak sah. Akan datang penjelasannya, insya Allah.

[4]. Kakek dan Nenek Yang Sudah Lanjut Usia

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Kakek dan nenek yang lanjut usia, yang tidak mampu puasa harus memberi makan setiap harinya seorang miskin”[ Hadits Riwayat Bukhari 4505, Lihat Syarhus Sunnah 6/316, Fathul bari 8/180. Nailul Authar 4/315. Irwaul Ghalil 4/22-25]

Diriwayatkan oleh Daruquthni (2/207) dan dishahihkannya, dari jalan Manshur dari Mujahid dari Ibnu Abbas, beliau membaca ayat :

“Artinya : Orang-orang yang tidak mampu puasa harus mengeluarkan fidyah makan bagi orang miskin” [Al-Baqarah : 184]

Kemudian beliau berkata : “Yakni lelaki tua yang tidak mampu puasa dan kemudian berbuka, harus memberi makan seorang miskin setiap harinya 1/2 gantang gandum” [Lihat ta’liq barusan]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

“Artinya : Barangsiapa yang mencapai usia lanjut dan tidak mampu puasa Ramadhan, harus mengeluarkan setiap harinya satu mud gandum” [Hadits Riwayat Daruquthni 2/208 dalam sanadnya ada Abdullah bin Shalih dia dhaif, tapi punya syahid]

Dari Anas bin Malik (bahwa) beliau lemah (tidak mampu untuk puasa) pada satu tahun, kemudian beliau membuat satu wadah Tsarid dan mengundang 30 orang miskin (untuk makan) hingga mereka kenyang. [Hadits Riwayat Daruquthni 2/207, sanadnya Shahih]

[5]. Wanita Hamil dan Menyusui

Di antara rahmat Allah yang agung kepada hamba-hamba-Nya yang lemah adalah Allah memberi rukhsah (keringanan) pada mereka untuk berbuka, dan diantara mereka adalah wanita hamil dan menyusui.

Dari Anas bin Malik , ia berkata :

“Kudanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami, akupun mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku temukan beliau sedang makan pagi, beliau bersabda, “Mendekatlah, aku akan ceritakan kepadamu tentang masalah puasa. Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala menggugurkan 1/2 shalat atas orang musafir, menggugurkan atas orang hamil dan menyusui kewajiban puasa”. Demi Allah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengucapkan keduanya atau salah satunya. Aduhai sesalnya jiwaku, kenapa aku tidak (mau) makan makanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Hadits Riwayat Tirmidzi 715, Nasa’i 4/180, Abu Daud 3408, Ibnu Majah 16687. Sanadnya Hasan sebagaimana pernyataan Tirmidzi]

[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]

Artikel ini kami kutip dari tim al-manhaj Bogor, semoga Allah membalas kebaikan saudara – saudara kami di sana.

Nantikan seri tulisan Setetes Embun Ramadhan dari untaian fatwa para ulama, Insya Allah


Actions

Information

12 responses

19 08 2008
Puss..sst

Assalamu’alaykum.
..ramadhan ya ramadhan
datang sebentar lagi
trus berkarya mas fitry

Wa’alaikumsalam warahmatullah…

Insya Allah ukhti…

20 08 2008
ahsinmuslim

beberapa hal mengapa islam begitu mudah di terima oleh masyarakat, karena islam itu agama yang sesuai dengan akal atau dpt diterima oleh akal, islam itu mudah dalam penyampaiannya dan tentu saja islam itu tidak menyulitkan umatnya.

sukron akh, atas untaian nasihat yang tidak pernah bosan akhi syiarkan kepada diri ini. semoga itu mampu menjadi motivasi bagi saya untuk lebih mengenal islam secara kaffah. dan tentu saja memberikan kesejukan dan kekuatan tersendiri bagi diri ini untuk terus melangkah dan menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari, insyaallah.

terus berdakwah, akh dan jangan bosan tuk meninggalkan untaian nasihat di blog saya. Semoga Allah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Amin…

Insya allah akhi, doakan kami tetap istiqamah…

20 08 2008
okta sihotang

wah..dah g terasa yak. ;)

Iyak…

20 08 2008
mahfuzhoh

“Sesungguhnya Islam itu agama yg mudah maka jangan dipersulit…”

Smangaaatt…..Cayo, sambut Ramadhan dengan suka cita !!! ^_^

Semangat…! Insya Allah…

20 08 2008
rahmawati

Info lengkap nih :)
saya tunggu tulisan selanjutnya..

Insya Allah, mbak.

20 08 2008
sandy

SEBELUM MASUK RAMADHAN IKHLASHKAN DULU HATIMU DENGAN KALIMAT TIADA YANG BERHAK DISEMBAH SELAIN ALLAH

Barakallahu Fiyka…akhi.

21 08 2008
Puss..sst

Alhamdulillah,
bahagiaku karena bulan ramadhan akan tiba.
Sedihku ramadhan yang hanya singgah 1bulan stiap th pergi.
Bln yg pnh rahmat,hidayah dan ampunan.
Aku takut.
Ketika ramadhan esok tak dapat jumpainya lagi…


Insya Allah, selalu berdoa saja agar Allah mempertemukan…

21 08 2008
achoey sang khilaf

subhanallah
aku makin rindu Ramadhan

Saya juga…

21 08 2008
ariefdj™

aq juga..

saya juga…

21 08 2008
vaepink

Makasih ya…., buat penyejuk hatinya… :)
Ramadhan begitu indah dan aku akan selalu merindukanmu Ramadhan…

Sama – sama mbak, doakan kami masih istiqamah untuk menulis.

21 08 2008
ghaniarasyid™

tentang kemudahan dalam berpuasa ya, akh?

Hm…
tapi kalo saya pribadi lebih prefer puasa sebulan penuh meskipun ada perjalanan jauh. karena menyahur puasa di luar bulan Ramadhan itu jadi tidak terasa suasana Ramadhan-nya :D

27 07 2009
ikhwah

Jazakallah khair..
Salam kenal sahabat!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: