KETIKA CINTA IBUNDA TAK LAGI BERMAKNA…

19 06 2008

kasih dan cinta seorang ibunda...

“ Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa “

Sebait syair inilah yang sering kita dengarkan melalui lisan para pendidik kita, yaitu syair tentang kasih seorang ibu yang tak pernah sirna oleh masa, dan tak pernah layu oleh waktu. Namun, ternyata syair itu tak selamanya indah. Ada kalanya, syair itu salah…Mengapa…??? Selanjutnya…

Adalah Mush’ab bin Umeir adalah seorang pemuda yang tampan berasal dari keluarga kaya raya. Dalam kehidupannya ia banyak memiliki limpahan harta, dimanja secara berlebihan, menjadi pujaan banyak gadis, berotak cemerlang dan memiliki nama yang harum di seantero kota Mekkah. Selain itu, ia adalah pusat perhatian dalam setiap pertemuan, dimana setiap anggota majelis dan teman-temannya selalu mengharapkan kehadirannya untuk memecahkan berbagai persoalan karena kecermalangan otaknya.

Sampai suatu hari, terbetik kabar tentang Muhammad Ibnu ‘Abdillah Al-Amin yang menyatakan diri sebagai utusan Allah untuk menyampaikan agama yang benar. Kian hari kabar itu kian santer di kalangan warga Mekkah, dan sampai juga di telinga Mush’ab. Mush’ab tergerak hatinya untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut. Melalui usahanya, makin banyaklah berita yang ia ketahui, termasuk dimana Rasulullah dan para sahabatna mengadakan pertemuan rutin, yakni di tempat suci di bukit Shafa, di kediaman Arqam bin Abil Arqam guna menghindari ancaman kaum Quraisy. Di tempat ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau berkumpul dan beribadah kepada Allah serta mempelajari ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Dengan semangat dan tekad bulat, suatu hari diikutinya rombongan mereka menuju kediaman Arqam. Seperti tersebut dalam riwayat, baru sekejap mata Mush’ab mengambil tempat duduknya, terdengar olehnya Rasulullah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan kekhusyu’an yang mendalam. Tergetarlah dada Mush’ab oleh pesona yang begitu agung, keharuan yang begitu mendalam dan kebahagiaan yang nyaris sempurna, sehingga membuatnya hampir terlonjak ketika menghampiri Rasulullah.

Namun dengan penuh kebijakan dan rasa kasih sayang, Rasullah mengurut dada pemuda Quraisy itu dengan tangan beliau nan halus. Maka menjadi terasa teduh batin pemuda yang tengah bergejolak hatinya oleh rasa itu. Selanjutnya, pada hari itu juga, masuklah Mush’ab bin Umeir kedalam agama Islam dengan hati mantap dan keyakinan penuh.

Walaupun demikian, tidak semuanya berjalan smpurna. Salah satu sandungan terberat yang dialaminya, setelah masuk Islam adalah dari ibu kandungnya sendiri, yakni Khunas binti Malik. Kharisma dan kekerasan jiwa sang ibu, untuk sementara waktu membuat Mush’ab memnyembunyikan keislamannya, sampai kemudian hari Allah menghendakinya.

Demikianlah, sekian lama ia berusaha menutupi rahasia, sekian lama ia berusaha menutupi rahasia itu. Tetapi kota Makkah begitu banyak menyimpan mata, apa lagi dalam suasana seperti kala itu. Setiap gerak muslim pasti tak luput dari perhatian. Akhirnya, berita keislaman Mush’ab sampai juga ketelinga ibund. Berita itu didapat dari seseroarng bernama Utsman bin Thalhah yang melihat dengam mata kepala sendiri, bahwa Mush’ab sering kerumah Arqam secara sembunyi-sembuny. Bahkan suatu saat, dilihatnya Mush’ab shalat berjama’ah bersama Rasul dan para Sahabatnya beliau.

Betapa murka hati sang ibu, lalu dipanggilnya Mush’ab untuk segera menghadapnya. Di hadapan ibunya, saudara-saudaranya,dan para pembesar Mekkah kala itu, Mush’ab berdiri tegar seraya memperdengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an untuk menyntuh hati nurani mereka. Namun apa mau dikata, hati sang ibu dan semua yang ada disitu tak sedikitpun tergugah. Bahkan sang ibu nyaris menampar muka anaknya, kalaulah tidak melihat cahaya penuh wibawa memancar dari wajah putra terkasihnya itu. Tetapi tak urung, sianak dibawanya juga kesebuah kamar terpencil dalam rumahnya, dan dikurungnya rapat-rapat.

Sampai akhirnya ketika Mush’ab mendengar banyak kaum muslimin berhijrah ke Habasyah, ia berhasil meloloskan diri dengan cara memperdaya sang ibu dan para pengawalnya.

Mush’ab berlari dan menyembunyikan diri di Habasyah bersama rekan-rekannya seperjuangan dengan menghadapi berbagai rintangan dan cobaan silih berganti. Namun ia sangat bangga dan bersyukur, karena dapat mengikuti pola hidup yang diajarkan oleh Rasul, walaupun sebagai resikonya ia harus meninggalkan kemewahan yang selama ini menaungi kehidupannya. Ia harus menanggalkan pakaian indah miliknya dan menggantinya dengan pakaian yang lusuh, usang dan penuh tambalan.

Hingga pada suatu hari, mata setiap orang basah dibuatnya, karena menyaksikan perubahan pada dirinya yang demikian drastis, yakni ketika ia hadir dalam sebuah pertemuan yang dihadiri juga oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Rasulullah sendiri menatapnya dengan rasa syukur, dan dengan penuh arti beliau bersabda :

“Dahulu kukenal Mush’ab ini pemuda yang tidak ada imbangnya dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya. Namun kemudian semua itu ditinggalkan demi Allah dan Rasul-Nya.

Tatkala sang ibu menangkapnya kembali sepulang dari Habasyah, ketika itu pula Mush’ab bertemu untuk berpisah dengan sang ibunda selama-lamanya. Keteguhannya membuat sang ibu putus asa. Sampai detik terakhir, Mush’ab masih terus menasehati ibunya bahwa tidak ada yang berhak di sembah secara benar selain Allah, namun tidak juga membuahkan hasil. Justru hati si ibu semakin murka, akhirnya dengan berlinang air mata, terpaksa dihapusnya juga nama Mush’ab dalam hatinya sebagai anak kandungnya tercinta… Maka berpisahlah kedua anak dan ibu tersebut.

Begitulah akhir cerita tentang sahabat mulia Nabi kita, yang mana cinta pada Allah ‘azza wa jalla lebih mereka agungkan daripada cinta kepada siapapun…

Ya Allah, jadikan kami dan saudara – saudara kami…untuk dapat mencintaimu lebih dari pada cinta selain padamu…Amiiin.

Disarikan penulis dari Majalah El Fata edisi I th. I hal. 32-37


Actions

Information

17 responses

20 06 2008
harfianto

kisah yang inspiratif..

20 06 2008
achoey sang khilaf

setiap cinta pada mahluk
adalah aliran sungai menuu muara cinta
dan hanya kepada Allah-lah cinta kita bermuara

20 06 2008
mubaraq

روى الطبراني وحسنه الألباني أنَّ النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” من استغفر للمؤمنين والمؤمنات كتب الله له بكل مؤمن ومؤمنة حسنة ” ـ

20 06 2008
yellashakti

amiiin

20 06 2008
wennyaulia

amin…amin…amin…

Semoga Amiiin ini di dengar Yang Maha Kuasa…Kunjung lagi ya saudariku…

20 06 2008
GiE

Amiin ya robbalalamiin..

Bener-bener kisah yang patut direnungi…

Insya Allah dijadikan teladan juga akhi…Semoga kita dimudahkan Allah menuju jannah-Nya.

21 06 2008
hidayanti

amin ya Rabb…aduh mas ini keren banget..aku jadi inget mamah neh..dah 2 tahun ga ketemu..hIkz..doa ku semoga selalu engkau di berikan ilmu yang bermanfaat sampai ahir hayat…amiiin

Alhamdulillah…semoga bermanfaat. Terima kasih doanya ya, mbak hidayanti…

21 06 2008
realylife

amin
bunda cintaku hanya untukmu

amiiin…semoga ibunda antum mendengarnya saudaraku.

22 06 2008
ressay

Kurindukan suara cerewet yang keluar dari bibirmu ketika aku berbuat kesalahan.
Kurindukan cubitan sayang yang kau torehkan dibadanku tatkala aku melakukan hal-hal yang menurutmu tidak benar.

Bukan karena aku bangga dengan kenakalanku.
Tetapi aku bangga punya ibu yang mengingatkan sebagai bentuk kasih sayangmu kepadaku

sekarang, aku jauh darimu, tak ada lagi yang mengingatkanku saat jiwa-jiwa kenakalan itu muncul lagi.

Semoga kejauhan kita dengan ibunda, menambah kedekatan kita pada Allah Ta’ala untuk mendoakan ibunda kita…

22 06 2008
Listiana Lestari

Maka bersyukurlah bila seorang ibu masih menyayangi kita. Jagalah beliau dengan kasih sayangmu….

semoga beliau akan selalu kita jaga dengan kasih sayang kita…

22 06 2008
ghaniarasyid™

Iya, saya masih nakal terhadap Bunda… :(

23 06 2008
fisha17

Amin amin amiinnnn….

23 06 2008
sufimuda

Amin 3x Ya Rabbal ‘Alamin

23 06 2008
fairuzdarin

aamiiin…
ibu selalu mendukungku dalam hal kebaikan…

24 06 2008
khofia

buat saya, ibu selalu menjadi nomer satu.
buat anda, apakah ibu juga tetap nomer satu?
buat para remaja putri, siapkah anda menjadi ibu yang menjadi pujaan nomer satu anak2nya?

Insya Allah beliau nomer 3 saudariku, setelah Allah Ta’ala, Rasulullah ‘alaihi ash shalatu wa sallam kemudian baru Ibunda tercinta…

13 07 2008
fathimah

ibu adalah seseorang yang sangat ana banggakan….

tapi sampai sekarang ibu belum tau kalo ana sudah memakai jilbab yang syar’ie…
mohhon doanya agar ibu ana tidak kaget saat ana pulang dengan memakai jilbab yang syar’ie

1 05 2011
tafsir

I love Mom……,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: