Cinta, masa’ sih…???

9 06 2008

Merah Merona

“Akhi, kapan antum nikah…??? Wah, antum ini lama amat… “, kurang lebih demikianlah kalimat yang seringkali kita dengar dari ikhwan teman kita baik dari aktivis rohis kampus maupun dari teman kajian. Saya kurang tahu apakah maksud perkataan itu semua. Bisa jadi mereka bercanda, namun bisa jadi juga mereka jujur apa adanya…

Ya…inilah yang banyak terjadi di kalangan kita, ikhwan yang belum menikah. Kita seringkali memperbincangkan tentang wanita calon istri idaman, memperbincangkan ukhti fulan yang kini telah berjilbab panjang, memperbincangkan ukhti fulan yang kini telah tunduk pandang, memperbincangkan ukhti fulan yang kini mulai bercadar, memperbincangkan ta’aruf dan sebagainya. Fenomena ini sungguh banyak diperbincangkan. Terkesan memang pembicaraan ini masih dalam lingkup syar’i. Namun apakah memang demikian adanya??? Wallahu Ta’ala a’lam…

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Nabi kita yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits:

“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita.” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim)

Tidaklah hadits ini bermaksud untuk menyudutkan wanita, tidak pula bermaksud untuk mengintimidasi wanita… karena secara naluri laki – laki pasti akan tertarik pada wanita. Dalam Al Quran Allah pun telah berfirman:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita…” (QS. Ali Imran ; 14)

Ya, fitnah paling besar yang menghinggapi setiap laki – laki / ikhwan, pun hingga ikhwan pencari ilmu yang lalai akan ilmunya. Hanya ikhwan yang diselamatkan Allah dan dijaga-Nya lah yang dapat terselamatkan dari fitnah pembicaraan tentang wanita, mahabbah dan menikah…tanpa ada kunjung berani melangkah.

Tak ada api, maka tak akan ada asap. Inilah kata yang tepat untuk diungkapkan atas fenomena ini. Jika ditelaah lebih jauh, tidaklah ikhwan – ikhwan (padahal ikhwan itu udah bentuk jamak-pen) berkata demikian melainkan karena ada suatu sebab di dalamnya…

Apa saja yang menyebabkan ikhwan banyak membicarakan akhwat yang belum tentu akan menjadi istrinya itu? Mengapa banyak ikhwan yang masih sibuk membicarakan tentang pernikahan tanpa ada keberanian melangkah kepadany? Mengapa banyak ikhwan yang tersibukkan dengan ta’aruf tanpa ada keberanian untuk berta’aruf??? Sungguh hati ini telah terbius talbis iblis, terbuai dengan syubhat yang manis serta hati menjadi mati, tatkala mengatakan perkara – perkaran yang sia – sia, melalaikan diri dari ibadah, melemahkan hati dari ilmu syar’i…

Diantara hal yang banyak melalaikan kita adalah:

1. Terlalu banyak bicara.

Banyak berbicara adalah salah satu faktor yang menyebabkan hati menjadi keras, sebagaimana sabda rasulullah saw :”Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena banyak bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang yang terjauh dari Allah adalah yang berhati keras.” (HR. At Tirmidzi dari Ibnu Umar). Kemudian juga dengan banyak berbicara terkadang membuat kita sering mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan dan tanpa dipertimbangkan sebelumnya, sehingga melahirkan kerugian dan penyesalan. Umar bin Kahttab radliyallahu’anhu pernah berkata: “Barang siapa yang banyak bicaranya, maka banyak kesalahannya, sehingga nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka.” Hal ini ditegas juga dalam sebuah hadits , bahwa rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan ia tergelincir kedalam neraka lebih jauh antara timur dan barat.”(muttafaq ‘alaihi, dari Abu Hurairah)

2. Berlebihan dalam memandang sesuatu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada setiap mukmin dan mukminah untuk menundukkan pandangannya yang demikian itu lebih suci bagi hati-hati mereka. Dan juga mereka akan merasakan manisnya iman, sebagaimana sabda rasulullah saw : “Barangsiapa yang menahan pandangannya karena Allah, maka dia akan diberikan oleh Allah rasa manisnya iman yang ia rasakan dalam hatinya, sampai dimana ia manghadap kepada-Nya.” (HR. Ahmad). Sekarang bagaimana jika perintah itu dilanggar, maka jelas akan menyebabkan fitnah bagi hati pelakunya. yaitu, rusaknya kesucian hati itu sendiri oleh angan-angan dan keindahan semu yang dibisikkan setan, lupa terhadap hal yang menjadi kemaslahatan. Lalu ia berbuat melampaui batas sehingga hilanglah akal sehatnya dan menyebabkan ia menjadi pengabdi hawa nafsu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:”Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas.”[QS. Al-Kahfi:28].

3. Lalai akan berdzikir kepada Allah Ta’ala.

Ya, ketika hati telah ditempati wanita pujaan hati, maka dimana lagi tempat bagi Yang maha Pengasih??? Ketika cinta telah beralih pada wanita, maka dimana lagi tempat untuk Allah Ta’ala??? Ketika hari – hari dipenuhi kerinduan pada pujaan hati, kapankah akan sempat memahami ilmu syar’i???

Bisa jadi akhwat pun merasa demikian, karena godaan syaithan. Membicarakan ikhwan terlalu berlebihan. Semoga Allah Ta’ala merahmati kalian dan setiap insane muslimin…

Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita (para ikhwan) yang lalai dari agamanya. Semoga Allah Ta’ala segera mengembalikan hati kita di ats cintanya. Seandainya pun cinta pada wanita telah tiba, semoga Allah Ta’ala saja yang akan menggantinya dengan kehadiran wanita shalihah, yang sejuk dipandang mata, di saat MENIKAH. Amiiin…


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: