Kiat Lebih Profesional dalam Komunikasi

5 06 2008

Kalau trainer memberikan pelatihan adalah suatu hal yang biasa. Namun, kalau trainer memberikan pelatihannya kepada trainer, baru itu luar biasa. Hal itulah yang dilakukan Eko Andi Suryo, trainer Trustco dalam acara Training for Trainer (TFT) yang digelar JMMI, Sabtu (31/5). Acara ini dilakukan sebagai program tahunan Trustco kepada mahasiswa.

Eko, yang juga seorang alumni Teknik Sipil ITS angkatan 1995 ini tampil dengan gaya yang meyakinkan. Sesekali dalam menyampaikan materi, ia melemparkan joke ringan untuk membangkitkan suasana emosi peserta. Ia memberikan prinsip dasar seorang trainer yang harus siap dalam menghadapi ratusan bahkan ribuan orang. ”Kita harus berprinsip, barang siapa naik mimbar tanpa persiapan, maka ia akan turun mimbar tanpa penghormatan,” tegas pria yang telah aktif menjadi trainer sejak tahun 2001 ini.

Eko pun menjelaskan bahwa seorang trainer akan semakin berkualitas seiring dengan bertambahnya pengalaman. Ia bercerita tentang pengalaman pertamanya menjadi seorang trainer yang harus memberikan pelatihan di depan ratusan mahasiswa. ”Meskipun sudah dipersiapkan semua, tetap saja ada kemungkinan lain yang muncul, dari situ saya mengambil banyak hikmah,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan hal penting yang harus menjadi pegangan seorang trainer yaitu understanding human mind, play your emotion dan plan your activity. ”Poin-poin inilah yang menjadi kunci keberhasilan seorang trainer,” ujarnya.

Menurutnya, seorang trainer harus mengerti bagaimana memahami pikiran audience. “Trainer dituntut untuk dapat menyerderhanakan materi yang akan disampaikan agar mudah dicerna. Selain itu, trainer harus bisa menghadapi audience yang kritis,” kata Eko.

Kekritisan, lanjutnya, selain menyerang logika, juga disebabkan masalah kenyamanan.
”Banyak orang yang bersedia dikritisi, namun karena penyampaiannya yang salah jadi semuanya dimentahkan, di sini trainer diuji untuk mampu menyampaikan materi yang masuk akal dan juga masuk ke hati,” tegasnya.

Dalam penjelasannya yang lain, Eko menekankan pentingnya mengatur ritme emosi audience. ”Kalau kita belum bisa mengendalikan emosi, maka semua kemampuan yang kita miliki menjadi tidak berguna,” jelasnya. Oleh karena itu, imbuhnya, tiap kali ada pelatihan, biasanya trainer akan berusaha membawa peserta berimajinasi ke dalam materi yang disampaikan baik melalui musik atau pengondisian ruangan.

“Sebagai langkah terakhir adalah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan kemungkinan yang akan terjadi ketika trainer akan beraksi,” tandasnya. Eko pun berpesan agar para trainer juga memperhatikan hal yang bersifat teknis.

disadur dari http://ww.its.ac.id/berita.php?nomer=4765


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: