Tahukah Engkau Apa Itu “Tauriyah”…?

16 04 2009
tauriyah

tauriyah

Mungkin banyak pembaca yang asing dengan kata “Tauriyah“. Apa itu Tauriyah dan bagaimana hukumnya di tinjau dari sisi syariat Islam. Berikut penjelasan? Syekh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkaitan tentang hal tersebut.

Syaikh ditanya,

Apakah hukumnya Tauriyah? Adakah perincian padanya?

Beliau menjawab, Tauriyah adalah keinginan seseorang dengan ucapannya yang berbeda dengan dhahir ucapannya. Hukumnya boleh dengan dua syarat:

Pertama, kata tersebut memberi kemungkinan makna yang dimaksud.

Kedua, bukan untuk perbuatan zhalim.

Jika seseorang berkata, “Saya tidak tidur selain di atas watad.” Watad adalah tongkat di dinding tempat menggantungkan barang-barang. Ia berkata, “Yang saya maksud dengan watad adalah gunung.” Maka ini adalah tauriyah yang benar, karena kata itu memberi kemungkinan makna tersebut dan tidak mengandung kezhaliman terhadap seseorang.

Demikian pula jikalau seseorang berkata, “Demi Allah, saya tidak tidur kecuali di bawah atap.” Kemudian dia tidur di atas atap rumah, lalu berkata, “Atap yang saya maksudkan adalah langit. Maka ini juga benar. Langit dinamakan atap dalam firman-Nya,

“Dan kami jadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara,” (Al-Anbiya': 32)

Jika tauriyah digunakan untuk perbuatan aniaya, maka hukumnya tidak boleh, seperti orang yang mengambil hak manusia. Kemudian dia pergi kepada hakim, sedangkan yang dianiaya tidak memiliki saksi. Lalu qadhi (hakim) meminta kepada orang yang mengambil hak tadi agar bersumpah bahwa tidak ada sedikit pun miliknya di sisi Anda. Maka dia bersumpah dan berkata, “Demi Allah, ma lahu ‘indi syai’ (tidak ada sedikit pun miliknya pada saya).” Maka hakim memutuskan untuknya. Kemudian sebagian orang bertanya kepadanya tentang hal tersebut dan mengingatkannya bahwa ini adalah sumpah palsu yang akan menenggelamkan pelakunya di neraka. Dan disebutkan dalam hadits,

“Siapa yang bersumpah atas sumpah palsu yang dengan sumpah itu ia bisa mengambil harta seorang muslim, ia berbuat fasik padanya, niscaya ia bertemu Allah, dan Dia sangat murka kepadanya.” (Muttafaq Alaihi)

Yang bersumpah ini berkata, “Saya tidak bermaksud menafikan (membantah), dan yang saya maksudkan adalah itsbat (menetapkan). Dan niat saya pada kata “ma lahu” bahwa ‘ma’ adalah isim maushul, artinya: Demi Allah, yang merupakan miliknya ada pada saya.” Sekalipun kata itu memberikan kemungkinan makna itu, namun hal itu adalah perbuatan aniaya, maka hukumnya tidak boleh (haram). Karena inilah disebutkan dalam sebuah hadits,

“Sumpahmu berdasarkan pembenaran yang diberikan temanmu.” (Riwayat Muslim)

Takwil tidak berguna di sisi Allah  dan sekarang Anda telah bersumpah dengan sumpah yang palsu.

Jika seorang laki-laki, istrinya tertuduh melakukan tindakan jinayah (kriminal), sedangkan istrinya bebas (tidak bersalah) dari tuduhan itu, lalu ia bersumpah dan berkata, “Demi Allah, dia adalah saudari saya.” Dan ia berkata, “Maksud saya dia adalah saudari saya dalam Islam.” Maka ini adalah ta’ridh (sindiran/pemberian isyarat) yang benar, karena ia memang saudarinya dalam Islam, sedangkan dia dianiaya.

Kesimpulan:

Tauriyah adalah keinginan seseorang dengan ucapannya yang berbeda dengan dhahir ucapannya. Hukumnya boleh dengan dua syarat:

1. Kta tersebut memberi kemungkinan makna yang dimaksud.

2. Bukan untuk perbuatan zhalim.

Wallahu a’lam bisshawab

[Disalin dari kitab al-Fatawa asy-Syar'iyyah fi al-Masail al-Ashriyyah min Fatawa Ulama Albalad al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid al-Juraisiy, Penerjemah Musthafa Aini, Penerbit Darul Haq]

http://www.majalah-nikah.com/index.php?option=com_content&view=article&catid=28:feb09&id=98:nasihat-ulama

About these ads

Actions

Information

9 responses

16 04 2009
Nash

assalamu’alaykum,
hmm..apa ‘tauriyah’ ini yg dimaksud dg ‘permainan kata2′ spt yg pernah ms didit tnyakan pada sya perihal tulisan2 sya di blog bbrapa waktu lalu?
nice posting, bermanfaat.

16 04 2009
l5155st™

Wa’alaikumussalam waramatullah
iya benar mbak ratri…

16 04 2009
shofiyah

Assalamu’alaykum
ada yang mau beli majalah 2rban ga???
meskipun edisi lama tapi penampilannya tetep gress lowhh
klo ada hub shofiy

ttd
~penjual majalah~

pak bolehkah saya memanggil pak fitrah aja, biar ga terlalu sensi ^_^

Semangat pak nice post gitu….afwan nggih sekalian promo

16 04 2009
l5155st™

wa’alaikumussalam warahmatullah
boleh ukhti…silahkan panggil apa aja.
oh iya, monggo silahkan promo. :)

17 04 2009
shofiyah

Alhamdulillah dibolehin promo,,
nambahin aja wis,, cz ada yang salah paham di blog lain..

DUA RIBUAN… jadi bukan 20rb ^_^..

jujur an belina 1500
masih ada yang berminat????
*buruannnn sebelum kehabisan

jazakallah pak pitroh (kayak nama tokbuk ^_^)
barakallahufika

17 04 2009
l5155st™

pak pitroh ini panggilan bid’ah lho, ukhti…

saya tidak mau… :(

17 04 2009
shofiyah

loh afwan padahal maksudna pak fitrah (toko buku di malang)
mencoba pasih ngomong ep ep ep eph ef
wuooohhh
berhasiiil selamat selamat
*menyelamatidirisendiri*
pak ef nderek tangget nggih pitroh eh firah ti panggilan bid’ah untuk apa?? penasaran mode : ON
apa ga mau beli bintang telbitan ummmm… -> nyensor sendiri ^_^
nyambung ga yah….
takut kena tauriyah

eh do’ana ga dibales…

*pulang dengan wajah sedih*

Didit Fitriawan berkata…
Iya, karena panggilan itu baru saya dengar sekarang. Makanya bid’ah, karena tidak ada contoh panggilan itu sebelumnya. Oh iya lupa, wa fiyki barakallahu… :)

17 04 2009
islamwae

Assalamu ‘alaikum wr wb, sekedar sharing..
Contoh tauriyah :
ketika imam syafi’i ditanya soal: “apakah qur’an itu mahluk?”
beliau menjawab : “zabur, taurat, injil, alquran adalah mahluk”
beliau menjawab soalan tsb sambil mengarahkan telunjuk kanan beliau ke arah 4 jari tangan kiri beliau.

semoga gak bingung :-)
salam ukhuwah akhi..

5 05 2011
zakkiy

jika tauriyah berkaitan dengan berbohong,

atau berkaitan denagn bercanda,

atau berkaitan dengan menyembunyikan sesuatu informasi yang sebenarnya ia tidak ingn memberitahukan kepada yang lain, misalnya
p: kamu sudah lulus?
j: belum

si j sebenarnya sudah lulus s1 tapi maksud perkataan “belum” nya adalah belum lulus dalam hal apa saja misalnya belum lulus s2 atau s3,,, padahal si j mengerti bahwa si p masih mengira si j berstatus mahasiswa s1

bagaimana menurut antum?

Didit Fitriawan berkata…
Dari penjelasan antum yang telah gamblang itu, tentu saja yang demikian itu adalah boleh. Karena tauriyah adalah keinginan seseorang dengan ucapannya yang berbeda dengan dhahir ucapannya. Hukumnya boleh dengan dua syarat:

1. Kata tersebut memberi kemungkinan makna yang dimaksud.
2. Bukan untuk perbuatan zhalim.

Jadi jika si J tidak memperuntukkan jawabannya itu untuk kedzaliman, insya Alah itu diperbolehkan. Wallahua’lam bish shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 50 other followers

%d bloggers like this: